Kabid Fisik dan Prasarana Bapperida Bontang Noni Agetha menyampaikan kepada dewan terkait progres kerja sama dengan KOICA Jeju. (FOTO: SP/narasipedia.net)
BONTANG. Rencana kerja sama pengolahan sampah di Kota Bontang dengan Korea Selatan belum mendapat kepastian. Program yang melibatkan Korea International Cooperation Agency (KOICA) Jeju itu masih berada dalam tahap penjajakan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Kabid Fisik dan Prasarana Bapperida Bontang, Noni Agetha, mengatakan perkembangan terakhir program tersebut dibahas dalam pertemuan bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan KOICA pekan lalu.
Dalam pertemuan itu, Bontang menjadi salah satu dari tiga kegiatan yang disepakati Bappenas untuk ditindaklanjuti bersama KOICA. Salah satunya berkaitan dengan penanganan persampahan.
Namun, Pemkot Bontang tidak bertindak sebagai executing agency maupun implementing agency dalam kerja sama tersebut. Posisi Bontang sebatas penerima manfaat. Pelaksanaan program nantinya berada di bawah kewenangan KLH.
“Jadi, kita memang dalam kondisi sedikit tidak bisa berbuat banyak. Progres saat ini masih dalam tahapan penjajakan MoU antara Kementerian LH dengan KOICA,” kata Noni.
Salah satu tahapan yang belum rampung ialah penyusunan Environmental and Social Impact Assessment (ESIA). Kajian tersebut diperlukan untuk memetakan risiko lingkungan dan sosial dari proyek yang direncanakan.
Semula, ESIA ditargetkan selesai pada semester pertama. Namun berdasarkan informasi terbaru yang diterima Bapperida Bontang, dokumen tersebut belum selesai disusun oleh KOICA. KLH juga masih perlu menyiapkan kajian serupa.
Di tengah proses tersebut, muncul faktor lain yang membuat kelanjutan program belum sepenuhnya bisa dipastikan. Perubahan kabinet di Korea Selatan menyebabkan sejumlah rencana kerja sama ditinjau kembali.
Meski demikian, Bappenas meminta seluruh tahapan tetap dilanjutkan. Pemerintah masih mengupayakan penyelesaian Record of Discussion (ROD) dan MoU agar program bisa masuk ke tahapan hibah.
“Proses ini tetap diminta Bappenas untuk jalan terus. ROD dan MoU tetap kita upayakan sampai nanti mudah-mudahan bisa masuk ke proses hibah,” ujarnya.
Noni menjelaskan, jika kerja sama terealisasi, hibah diberikan kepada KLH. Sedangkan Bontang akan memperoleh manfaat dalam bentuk barang maupun jasa untuk mendukung penanganan persampahan.
KOICA juga berkomitmen memberikan pembaruan perkembangan program setiap tiga bulan kepada Bappenas. Pemkot Bontang selanjutnya dapat berkoordinasi dengan Bappenas maupun KLH untuk mengetahui perkembangan proyek.
Selain menunggu proses tersebut, pemerintah daerah berencana menjalin komunikasi lebih intensif dengan Biro Kerja Sama dan Biro Hukum KLH. Langkah itu diperlukan untuk memastikan penyusunan MoU dan ROD tidak terhenti.
Pemkot Bontang tidak ingin hanya bergantung pada kerja sama dengan KOICA. Program lain untuk meningkatkan kapasitas pengolahan sampah juga tengah dikejar lantaran ruang TPA semakin terbatas.
“Karena kita tidak bisa intervensi proses di kementerian, yang bisa dilakukan sekarang adalah terus berkoordinasi dan memastikan progresnya tetap berjalan,” pungkas Noni.
PENULIS: SP