TENGGARONG. Suksesnya pertunjukan Video Mapping yang digelar oleh PKMPM MELUNARA Universitas Kutai Kartanegara (UNIKARTA) di Museum Negeri Mulawarman pada Kamis (6/8/2026) malam kembali membangkitkan rasa ingin tahu masyarakat terhadap Legenda Putri Karang Melenu. Cerita rakyat legendaris dari Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur ini bukan sekadar fabel, melainkan akar dari silsilah peradaban dan tradisi di tanah Kutai.
Kisah diawali dengan keajaiban penemuan seorang bayi perempuan jelmaan seekor naga oleh sepasang suami istri. Bayi tersebut dirawat dan dibesarkan dengan limpahan kasih sayang hingga tumbuh menjadi sosok gadis jelita yang anggun, berakhlak mulia, dan berbudi luhur.
Kelembutan hati serta pesona Putri Karang Melenu lantas memikat Aji Batara Agung Dewa Sakti, Raja pertama Kerajaan Kutai Kartanegara. Pernikahan agung keduanya melahirkan garis keturunan raja-raja Kutai yang di kemudian hari meneruskan tahta pemerintahan, hingga berkembang menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, salah satu pilar sejarah penting di Kalimantan Timur.
Lebih dari sekadar kisah romansa, Putri Karang Melenu menyimpan identitas asal-usul yang sarat akan pesan moral mendalam. Legenda ini mengajarkan tentang pentingnya kasih sayang, kesetiaan, kebijaksanaan, serta keteguhan dalam memegang janji dan takdir.
Tak hanya itu, sosok Putri Karang Melenu memiliki keterikatan spiritual dan historis yang sangat kuat dengan Tradisi Erau, upacara adat tertua di Kutai yang diwariskan sejak zaman kerajaan. Hingga kini, Erau diselenggarakan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur, doa keselamatan, serta pelestarian adat istiadat. Dalam setiap perhelatan Erau, kisah asal-usul Putri Karang Melenu selalu dihadirkan kembali untuk mempertegas identitas budaya serta mempererat hubungan masyarakat dengan leluhurnya.
Penyajian kisah ini melalui teknologi video mapping di Museum Mulawarman menjadi bukti bahwa warisan leluhur tidak pernah pudar oleh zaman, melainkan terus hidup dan relevan bagi generasi masa kini.