Pemkot Bontang terus melakukan upaya penanganan banjir dengan melakukan penurapan sungai. (FOTO: SP/narasipedia.net)
BONTANG. Penanganan banjir di Kota Bontang terus diperkuat. Tak hanya menangani genangan setelah air meluap, Pemerintah Kota Bontang kini memetakan titik rawan dari hulu hingga hilir sekaligus menyiapkan peninggian turap yang masih menjadi celah masuknya air ke kawasan permukiman.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pengendalian banjir pada 2026. Tim percepatan telah turun melakukan peninjauan lapangan untuk mengidentifikasi titik-titik yang berpotensi menyebabkan limpasan ketika debit sungai meningkat.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Bontang, Syahruddin, mengatakan hasil evaluasi menunjukkan kondisi turap di sejumlah kawasan belum seluruhnya memiliki ketinggian yang sama.
Sebagian turap dinilai telah mampu menahan kenaikan debit. Namun, masih terdapat beberapa segmen yang lebih rendah. Bagian tersebut menjadi celah air melimpas menuju kawasan permukiman ketika debit sungai meningkat drastis.
“Sebagian turap sebenarnya sudah cukup tinggi, tetapi masih ada segmen yang rendah. Ketika debit air besar, itu yang menyebabkan limpasan ke permukiman,” terang Syahruddin.
Kondisi tersebut menjadi salah satu fokus pembenahan pemerintah. Pada 2026, peninggian turap di titik yang dinilai belum optimal masuk dalam langkah penanganan yang direncanakan.
Api-Api menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian. Hasil evaluasi menunjukkan ketinggian turap yang belum merata membuat air masih dapat melimpas ketika debit meningkat.
“Masih banyak turap yang rendah, sehingga air meluap ke permukiman. Ini yang menjadi perhatian kami,” ujarnya.
Namun, strategi penanganan banjir Bontang tidak berhenti pada pembangunan maupun peninggian turap.
Pemkot menyadari persoalan banjir memiliki karakteristik kompleks karena sebagian debit yang masuk ke wilayah kota berasal dari kawasan hulu. Kondisi itu terlihat pada kejadian banjir besar 14 Februari 2026 yang mayoritas dipengaruhi banjir kiriman.
Karena itu, Syahruddin menegaskan penanganan tidak bisa hanya berpusat di kawasan hilir. Pengendalian perlu dilakukan secara terpadu dengan memperhitungkan aliran air dari hulu sebelum masuk ke kawasan permukiman.
Pendekatan tersebut menjadi penting agar infrastruktur pengendali yang telah dibangun dapat bekerja lebih optimal saat terjadi hujan berintensitas tinggi maupun peningkatan debit dari wilayah hulu.
Selain peninggian turap, hasil peninjauan tim percepatan menjadi dasar menentukan titik yang membutuhkan intervensi berikutnya. Dengan pemetaan yang semakin terperinci, penanganan dapat diarahkan pada lokasi yang paling membutuhkan pembenahan.
Langkah itu sekaligus menunjukkan penanganan banjir terus bergerak dari pola responsif menuju mitigasi. Pemerintah tidak hanya bergerak ketika genangan terjadi, tetapi berupaya menutup titik-titik rawan sebelum kembali menghadapi periode hujan.
Melalui pembenahan infrastruktur dan penanganan terpadu dari hulu hingga hilir, Pemkot Bontang berupaya semakin memperkecil risiko limpasan air ke permukiman serta meningkatkan ketahanan kota menghadapi banjir.
PENULIS: SP