Luas genangan banjir di Kota Bontang hingga saat ini sudah mengalami penyusutan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. (FOTO: SP/narasipedia.net)
BONTANG. Luas genangan banjir di Kota Bontang hingga Februari 2026 tercatat 100,44 hektare. Angka sementara tersebut masih berada di bawah akumulasi genangan sepanjang 2025 yang mencapai 126,31 hektare, meski Bontang sempat dilanda banjir besar pada 14 Februari lalu.
Data tersebut menjadi gambaran awal kondisi banjir Bontang sepanjang dua bulan pertama 2026. Namun, angka tahun ini belum dapat dibandingkan secara penuh dengan 2025 karena periode pencatatannya berbeda.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Bontang, Syahruddin, mengatakan data 2026 baru dihimpun hingga Februari. Bahkan, banjir besar yang terjadi pertengahan Februari sebagian besar dipengaruhi kiriman air dari wilayah hulu.
“Data 2026 ini baru sampai Februari, termasuk banjir besar pada 14 Februari. Itu pun sebagian besar merupakan banjir kiriman,” ujarnya.
Sementara angka 126,31 hektare pada 2025 merupakan akumulasi selama satu tahun. Catatan tersebut mencakup berbagai kejadian, mulai banjir lokal akibat curah hujan, banjir kiriman, hingga genangan akibat rob.
Karena itu, Syahruddin menegaskan angka 100,44 hektare belum mencerminkan kondisi banjir Bontang sepanjang 2026. Luas genangan masih dapat berubah, terutama ketika musim hujan kembali melanda.
Berdasarkan data sementara, Api-Api menjadi wilayah dengan genangan terluas, mencapai 46 hektare. Angka tersebut hampir separuh dari total luas genangan yang tercatat hingga Februari.
Guntung berada di urutan berikutnya dengan luas genangan 23,58 hektare. Kemudian Gunung Telihan 10,76 hektare, Gunung Elai 9,03 hektare, Satimpo 5,98 hektare, Kanaan 4,85 hektare, serta Bontang Kuala 0,24 hektare.
Syahruddin menyebut perkembangan angka genangan hingga akhir tahun sangat bergantung pada kondisi cuaca dan intensitas curah hujan.
Memasuki musim kemarau, potensi kejadian banjir dalam beberapa bulan mendatang diperkirakan menurun. Namun kewaspadaan tetap diperlukan ketika periode penghujan kembali datang.
“Dalam tiga bulan ke depan kemungkinan banjir tidak banyak karena mulai masuk kemarau. Namun saat musim hujan kembali, itu yang perlu diwaspadai,” jelasnya.
Catatan luas genangan tersebut juga menunjukkan perubahan signifikan apabila dibandingkan dengan peristiwa banjir besar beberapa tahun lalu. Banjir terparah yang pernah tercatat di Bontang terjadi pada 2019. Kala itu, luas genangan mencapai 515,30 hektare.
Data tersebut menjadi salah satu indikator yang terus dipantau pemerintah dalam mengevaluasi perkembangan banjir dari tahun ke tahun. Pemantauan secara berkala juga diperlukan untuk menentukan kawasan yang memiliki risiko paling tinggi ketika debit air meningkat.
PENULIS: SP