Kepala Diskominfo Kota Bontang, Andi Hasanuddin Akmal (paling kanan) bersama tim pada saat melakukan monev di salah satu titio Wi-Fi publik. (DOK. Diskominfo Bontang)
BONTANG. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bontang melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap program Wi-Fi publik dalam rangka memastikan layanan internet pada program Bontang Bebas Blank Spot dapat dimanfaatkan masyarakat secara optimal.
Kepala Diskominfo Kota Bontang, Andi Hasanuddin Akmal, mengatakan monev dilakukan sebagai tindak lanjut atas sejumlah masukan masyarakat yang disampaikan dalam Forum Konsultasi Publik. Beberapa ketua RT sebelumnya melaporkan adanya kendala penerimaan atau kecepatan Wi-Fi di wilayahnya.
“Kami datang ke titik-titik itu untuk mengecek kebenarannya dan juga menghadirkan langsung providernya. Sehingga kalau ada kendala di lapangan langsung saya minta untuk ditindaklanjuti,” ujar Andi saat ditemui di kantornya, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, salah satu temuan di lapangan berkaitan dengan posisi perangkat pemancar Wi-Fi. Pada sejumlah titik, perangkat ditempatkan di dalam ruangan sehingga jangkauan sinyal menjadi tidak maksimal. Padahal kapasitas layanan Wi-Fi yang digunakan saat ini telah ditingkatkan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kita beberapa titik speed test itu sesuai. Namun ada ketua RT yang menyimpannya di dalam ruangan sehingga ini tidak bisa dinikmati oleh masyarakat. Sehingga kita minta perangkat itu dipindah keluar,” katanya.
Diskominfo mencatat terdapat 771 titik Wi-Fi publik yang tersebar di 15 kelurahan Kota Bontang. Namun, monev yang dilakukan kali ini belum mencakup seluruh titik karena pemeriksaan dilakukan secara sampling di lima kelurahan.
Dari hasil pengukuran menggunakan Speedtest Ookla, kecepatan unduh di sejumlah titik berada pada kisaran 41 hingga 48 Mbps. Angka tersebut meningkat dibandingkan layanan tahun sebelumnya yang berada pada kisaran 10 hingga 19 Mbps. Bahkan terdapat titik yang mencatat kecepatan unggah hingga sekitar 51 Mbps ketika dilakukan pengujian.
“Alhamdulillah di beberapa titik tercapai. Kita turun memang pada saat Wi-Fi itu tidak terpakai, jadi kita dapat kecepatan maksimum,” ujarnya.
l
Ia menambahkan, secara umum Wi-Fi publik masih dimanfaatkan masyarakat. Sejumlah titik bahkan menjadi tempat berkumpul warga.
Diskominfo juga menemukan adanya titik yang sempat dimatikan oleh ketua RT karena aktivitas pengguna yang dinilai mengganggu ketertiban. Menurut Andi, kondisi tersebut akan ditangani melalui evaluasi teknis, termasuk rencana pembatasan akses terhadap sejumlah permainan daring.
“Minimal Wi-Fi-nya bisa dimanfaatkan secara optimal, sesuai dengan fungsinya,” pungkasnya.