Anggota Komisi B DPRD Bontang, Suharno (FOTO : AD/Narasiperia.net)
BONTANG. DPRD Kota Bontang menyoroti belum optimalnya pemanfaatan videotron milik pemerintah daerah yang dinilai belum memberikan kontribusi maksimal terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain sejumlah unit yang tidak berfungsi, fasilitas tersebut juga dianggap belum dimaksimalkan sebagai media promosi dan layanan informasi publik.
Anggota Komisi B DPRD Bontang, Suharno, mempertanyakan efektivitas pengelolaan videotron jika dibandingkan dengan besarnya anggaran yang telah dikeluarkan untuk pengadaan dan operasionalnya.
Ia menilai perlu adanya evaluasi menyeluruh agar aset daerah tersebut benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.
“Perlu dilihat kembali apakah pemanfaatannya sudah sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, termasuk untuk operasional dan perawatan. Jangan sampai aset yang sudah dibangun justru tidak memberikan kontribusi yang signifikan bagi daerah,” ujar Suharno, Rabu (6/5/2026).
Suharno juga mendorong pemerintah daerah untuk lebih aktif menggandeng perusahaan-perusahaan besar di Kota Bontang agar memanfaatkan videotron sebagai sarana promosi dan penyebaran informasi.
Menurutnya, keterlibatan dunia usaha dapat membuat konten yang ditayangkan lebih dinamis sekaligus membuka peluang peningkatan PAD.
“Perusahaan-perusahaan di kawasan industri seperti Badak LNG, Pupuk Kaltim, dan lainnya bisa dilibatkan untuk menayangkan informasi perusahaan, program CSR, maupun lowongan kerja,” jelasnya.
Ia menambahkan, kolaborasi tersebut tidak hanya menghidupkan fungsi videotron sebagai media informasi publik, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi daerah.
Selain isu videotron, DPRD juga mendorong pemerintah daerah untuk menggali potensi PAD lain yang belum dimaksimalkan, terutama dari sektor perizinan dan retribusi.
Suharno menegaskan bahwa peningkatan PAD seharusnya tidak dilakukan dengan membebani masyarakat melalui kenaikan tarif, melainkan dengan memperluas basis penerimaan daerah.
“Fokusnya bukan menaikkan beban masyarakat, tetapi mencari potensi baru yang selama ini belum tergarap maksimal sebagai sumber PAD,” pungkasnya.
PENULIS : AD