Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha. (FOTO: Re/narasipedia.net)
BONTANG. Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) mulai mengambil langkah serius dalam menangani fenomena ekspresi gender di lingkungan sekolah. Upaya ini tidak hanya melibatkan pihak sekolah, tetapi juga melibatkan lintas sektor secara langsung sebagai bentuk intervensi kebijakan.
Fenomena ekspresi gender yang muncul di kalangan pelajar dinilai sebagai persoalan yang membutuhkan perhatian lintas sektor. Tidak hanya berkaitan dengan dunia pendidikan, tetapi juga menyangkut aspek sosial, keluarga, hingga kebijakan publik yang lebih luas.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, menegaskan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab dalam menjaga arah perkembangan generasi muda agar tetap sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat. Oleh karena itu, keterlibatan kepala daerah dan jajaran terkait menjadi bagian dari strategi penanganan.
“Pemerintah hadir bersama orang tua dan pihak terkait untuk menyelamatkan generasi tersebut sebelum melangkah lebih jauh,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa upaya yang dilakukan meliputi identifikasi dini di sekolah, pendampingan oleh guru BK, hingga koordinasi dengan pihak keluarga. Semua langkah tersebut dilakukan secara terintegrasi agar penanganan berjalan efektif.
Selain itu, pemerintah juga mendorong adanya pendekatan yang lebih humanis dan tidak menghakimi, sehingga anak-anak tetap merasa aman dalam proses pembinaan. Hal ini penting untuk menghindari dampak psikologis yang justru dapat memperburuk kondisi mereka.
Melalui sinergi antara pemerintah, sekolah, dan keluarga, Disdikbud berharap kebijakan yang diambil mampu memberikan solusi jangka panjang dalam menekan fenomena tersebut di lingkungan pendidikan.
PENULIS: Re