Salah satu SPPG yang berada di jalan Awang Long (FOTO : AD/narasipedia.net)
BONTANG. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bontang dinilai masih berjalan lambat dan belum menjangkau wilayah dengan keterbatasan akses atau kategori 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
Ketua Komisi A DPRD Bontang, Heri Keswanto, mengungkapkan salah satu kendala utama terletak pada proses sosialisasi yang masih terus dilakukan oleh dinas terkait ke sekolah-sekolah.
“Pelaksanaan MBG ini memang belum merata karena masih dalam tahap sosialisasi di lapangan, sehingga belum semua sekolah bisa langsung menjalankan program tersebut,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).
Selain itu, persoalan ketersediaan tenaga kerja juga menjadi hambatan. Ia menyebut, aturan teknis (juknis) yang semakin ketat membuat pemenuhan tenaga pendukung, termasuk ahli gizi, menjadi tidak mudah.
“Persyaratan tenaga kerja sekarang lebih ketat, terutama kebutuhan ahli gizi. Sementara jumlah tenaga ahli ini terbatas dan dibutuhkan secara nasional,” jelasnya.
Kondisi tersebut berdampak pada belum optimalnya operasional dapur MBG. Meski sebagian fasilitas telah dibangun, belum semuanya bisa difungsikan karena keterbatasan sumber daya manusia.
“Dapurnya sudah ada, tapi belum bisa berjalan maksimal karena tenaga pendukungnya belum terpenuhi,” katanya.
Lebih lanjut, ia menambahkan, kendala ini juga berpengaruh pada distribusi program ke wilayah 3T yang hingga kini masih belum tersentuh secara optimal.
Meski demikian, pihaknya berharap target pemerintah pusat agar program MBG dapat berjalan penuh pada Agustus mendatang bisa tercapai, seiring penyelesaian berbagai aspek teknis di lapangan.
“Mudah-mudahan dalam waktu dekat semua kendala bisa diselesaikan, sehingga program ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat,” pungkasnya.
PENULIS : AD