Suasana belajar di SMA YPK. (FOTO: Dok. SMA YPK)
BONTANG. Keberhasilan 39 siswa SMA YPK Bontang lolos dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 tidak lepas dari dukungan intensif yang diberikan pihak sekolah sejak dini. Pendampingan terstruktur, mulai dari pemetaan minat hingga keterlibatan orang tua, menjadi faktor utama meningkatnya jumlah kelulusan tahun ini.
Kepala SMA YPK Bontang, Budiriyanto, menjelaskan bahwa sekolah telah menyiapkan siswa untuk jalur prestasi sejak mereka duduk di kelas 10. Fokus utama diarahkan pada menjaga konsistensi nilai agar siswa dapat masuk dalam kategori eligible SNBP.
Eligible SNBP adalah status bagi siswa kelas 12 yang memenuhi syarat akademik untuk mendaftar PTN tanpa tes, berdasarkan kuota akreditasi sekolah. Siswa ditentukan melalui pemeringkatan rapor semester 1-5 di PDSS. Kuota sekolah mencakup 40% (Akreditasi A), 25% (B), atau 5% (C/Lainnya) terbaik.
“Sejak kelas 10 semester awal, kami sudah arahkan siswa untuk menjaga nilai agar bisa masuk 40 persen terbaik di sekolah. Ini jadi syarat utama untuk ikut SNBP,” ujarnya.
Dukungan tersebut dilanjutkan melalui strategi pemetaan minat dan kemampuan siswa yang dilakukan secara bertahap. Tim bimbingan konseling (BK) bersama tim khusus PTN melakukan pemetaan hingga tiga kali guna memastikan pilihan jurusan dan perguruan tinggi sesuai dengan potensi siswa.
Menurut Budiriyanto, langkah ini penting untuk menghindari penumpukan pilihan pada jurusan atau kampus tertentu yang dapat memperkecil peluang lolos.
“Kami arahkan agar pilihan mereka realistis dan terdistribusi, sehingga peluang diterima lebih besar,” jelasnya.
Selain itu, sekolah juga menghadirkan program Konsultasi Siswa (Konsis) yang melibatkan orang tua. Program yang digelar setiap Desember ini menjadi ruang diskusi antara sekolah, siswa, dan orang tua untuk mematangkan pilihan studi lanjut berdasarkan hasil pemetaan.
Tidak hanya dari sisi akademik, SMA YPK juga memberikan dukungan dalam penguatan portofolio. Siswa didorong mengikuti berbagai ajang prestasi seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), dan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) sebagai nilai tambah dalam seleksi.
Pendampingan juga dilakukan secara psikologis, mengingat proses seleksi SNBP kerap menimbulkan tekanan bagi siswa. Sekolah berupaya memastikan siswa tetap percaya diri dan fokus selama proses berlangsung.
Hasil dari berbagai upaya tersebut terlihat signifikan. Jumlah siswa yang lolos SNBP 2026 mencapai 39 orang, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Ke depan, SMA YPK Bontang berkomitmen untuk terus memperkuat sistem pendampingan, termasuk penambahan jam pelajaran sejak awal kelas 12 serta optimalisasi peran tim pendamping studi lanjut.
“Keberhasilan ini adalah hasil kerja bersama antara sekolah, siswa, dan orang tua. Dukungan yang konsisten akan terus kami tingkatkan agar prestasi ini bisa dipertahankan,” pungkas Budiriyanto.