Wajah baru jembatan di Kampung Masdarling, Kelurahan Gunung Telihan, yang telah rampung 100 persen melalui program TMMD Ke-128 Kodim 0908/Bontang. (FOTO: Pendim 0908/Btg)
BONTANG. Langit di atas Kelurahan Gunung Telihan pada akhir April 2026 adalah gambaran nyata sebuah ketidakpastian. Dalam hitungan jam, panas yang menyengat dengan suhu rata-rata hingga 30 °C bisa mendadak berubah menjadi mendung pebal yang menjatuhkan hujan lokal. Di tengah transisi musim yang menantang ini, sebuah perjuangan fisik sedang berlangsung di Kampung Masdarling.
Dimulai sejak 23 April, Satgas TMMD Ke-128 dari Kodim 0908/Bontang memikul tanggung jawab besar, yaitu meruntuhkan jembatan tua yang ringkih untuk digantikan dengan struktur yang lebih kokoh. Namun, alam tidak membiarkan pekerjaan ini berjalan mudah. Pada fase awal pembongkaran jembatan, kelembapan udara yang tinggi membuat tanah di sekitar bantaran sungai menjadi licin.
Serka Sukimin, yang mengawasi teknis di lapangan, harus memastikan pemasangan bronjong dilakukan dengan presisi meski aliran air meningkat akibat hujan sore hari. Dikatakannya, kuncinya ada di fondasi dan penahan tanah. Jika bronjong tidak kuat, jembatan ini hanya akan menunggu waktu untuk tergerus.
“Kalau fondasi ini meleset sedikit saja karena tanah yang labil akibat hujan, seluruh struktur jembatan di atasnya akan terancam di masa depan. Kita bertarung dengan aliran air yang meningkat setiap kali hujan turun di hulu,” ujar Serka Sukimin sembari mengarahkan penataan batu-batu gunung ke dalam ceruk sungai.

Anggota Satgas TMMD saat melakukan pengukuran dan pemotongan material kayu dengan presisi untuk memastikan durabilitas jembatan di tengah cuaca pancaroba. (FOTO: Pendim 0908/Btg)
Memasuki fase kedua, tepatnya 27 April hingga 1 Mei, alam seolah memberi napas sedikit lega. Matahari bersinar terik, memacu suhu rata-rata di angka 30 °C. Namun, di balik panas yang membakar itu, sebuah pemandangan humanis tersaji. Serma Syarifudin, sosok yang dikenal dekat dengan warga, memimpin gerakan gotong royong. Tidak ada sekat antara pangkat dan status sosial. Serma Syarifudin terlihat mengangkat papan-papan berat bersama Martinus dan Maskur, dua warga asli Masdarling yang secara suka rela menghibahkan tenaga mereka.
Maskur, dengan wajah yang legam terbakar matahari, berhenti sejenak untuk menyeka keringat dengan ujung bajunya. Sementara bagi Martinus, jembatan ini adalah jawaban atas penantian bertahun-tahun. Ia menceritakan bagaimana akses ekonomi warga sering terhambat karena kondisi infrastruktur yang buruk.
“Dulu, kalau malam hari atau hujan deras, kami selalu was-was. Jembatan lama itu goyang kalau dilewati motor. Anak-anak yang mau berangkat sekolah sering ragu. Sekarang, melihat bapak-bapak TNI bekerja dari pagi sampai malam, bahkan saat sore hujan. Kalau mereka saja semangat, masa kami yang punya kampung hanya menonton? Jembatan ini adalah mimpi kami yang jadi nyata,” ungkap Maskur dengan nada suara penuh syukur.
Kapten Inf Yunus, yang bertugas memastikan distribusi material dan tenaga kerja berjalan efektif, menjelaskan bahwa cuaca yang stabil pada akhir April menjadi “bonus” yang dimanfaatkan untuk mempercepat pengerjaan rangka utama bangunan, sementara percepatan struktur lantai dilakukan saat kondisi cuaca tetap mendukung pada awal Mei. Ia juga menegaskan bahwa setiap perkembangan pekerjaan dilaporkan secara transparan kepada Pemerintah Kelurahan Gunung Telihan dan para ketua RT setempat yang sejak awal turut mengawal jalannya proyek tersebut.

Personel Satgas TMMD bersama warga Kampung Masdarling bahu-membahu menyusun kerangka lantai jembatan di bawah terik matahari demi mengejar target penyelesaian. (FOTO: Pendim 0908/Btg)
“Kami mengejar struktur lantai saat matahari sedang terik-teriknya. Memang panas, tapi jauh lebih baik daripada harus bertaruh dengan lumpur saat hujan,” jelasnya.
Memasuki periode 2 hingga 5 Mei, pengerjaan mulai memasuki tahap yang lebih detail. Papan-papan lantai jembatan mulai dipasang secara rapat. Pihak Pemerintah Kelurahan Gunung Telihan dan para Ketua RT setempat hampir setiap hari berada di lokasi, memastikan koordinasi antara kebutuhan warga dan pelaksanaan teknis berjalan sinkron.
Kelembapan udara tetap menjadi tantangan, terutama saat tahap pengecatan dan finishing yang dimulai pada 6 Mei. Namun, kesiapan mental prajurit Satgas TMMD telah teruji. Mereka memahami bahwa 8 Mei adalah tenggat waktu keramat. Jembatan harus selesai 100 persen tanpa cacat.
“Kita tidak hanya menggunakan kayu sembarangan. Ada standar durabilitas yang kita kejar agar jembatan ini bisa bertahan hingga belasan tahun ke depan. Penataan baut, pelapisan anti-rayap, hingga penguatan di setiap sudut sambungan kita perhatikan secara detail,” jelas Serka Sukimin tentang detail teknis yang mereka terapkan pada saat ditemui di lokasi.
Letkol Inf Ardiansyah, selaku komandan pelaksana, tidak hanya memantau dari balik meja. Ia terlihat berkali-kali meninjau lokasi, memastikan setiap kendala cuaca tidak menghambat target. Di bawah arahannya, Satgas TMMD bertarung dengan waktu, memanfaatkan jendela cuaca cerah di pagi hari untuk pengerjaan rangka utama. Dimana ada fase krusial terjadi pada 6 hingga 8 Mei. Cuaca kondusif di pagi hari dimanfaatkan secara optimal oleh tim untuk tahap finishing dan pengecatan. Meski hujan singkat sempat menyapa di sore hari, hal itu tak lagi menjadi hambatan berarti karena struktur utama sudah terlindungi.

Memasuki tahap akhir, para prajurit melakukan pengecatan dan pelapisan kayu jembatan untuk melindungi struktur dari cuaca ekstrem dan rayap. (FOTO: Pendim 0908/Btg)
Jumat, 8 Mei 2026. Matahari pagi menyinari struktur jembatan yang kini berdiri kokoh di Kampung Masdarling. Warnanya masih segar, berdiri tegak, 100% rampung. Bukan lagi kayu rapuh yang bergoyang saat dilewati, melainkan infrastruktur yang menjanjikan keamanan bagi anak-anak sekolah dan mobilitas ekonomi warga Telihan.
Pada hari yang sama, Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) Penanggung Jawab Operasional (PJO) TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang dipimpin langsung oleh Mayjen TNI Muhammad Muchidin turut melakukan kunjungan kerja ke Kota Bontang. Dalam peninjauan tersebut, rombongan Wasev meninjau langsung jembatan di Kampung Masdarling guna memastikan seluruh sasaran program TMMD berjalan sesuai target dan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kehadiran tim Wasev sekaligus menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras Satgas TMMD bersama warga yang berhasil menuntaskan pembangunan jembatan di tengah tantangan cuaca pancaroba.
“Ini adalah bukti nyata bahwa TNI hadir bukan sekadar untuk membangun fisik, tapi mempererat ikatan emosional dengan masyarakat,” pungkas Letkol Inf Ardiansyah saat meninjau hasil akhir pembangunan.
Kini, warga Kelurahan Gunung Telihan bisa bernapas lega. Anak-anak sekolah dan warga Kampung Masdarling tak perlu lagi ragu melangkah saat hujan mengguyur. TMMD Ke-128 di Kampung Masdarling memang telah resmi berakhir secara administratif pada hari itu. Namun, cerita tentang bagaimana para prajurit bersama warga melawan cuaca pancaroba, bertarung dengan lumpur saat hari hujan, dan tertawa bersama warga di bawah terik matahari, akan terus diceritakan dari mulut ke mulut. Jembatan itu kini berdiri tegak, menjadi penghubung dua tepian sungai, sekaligus penghubung hati antara TNI dan masyarakat Bontang.

Ketua Tim Wasev PJO TMMD, Mayjen TNI Muhammad Muchidin, saat meninjau langsung kualitas pembangunan jembatan di Kampung Masdarling, Kota Bontang. (FOTO: Pendim 0908/Btg)
Di atas jembatan itu, harapan baru telah terbentang. Dan di setiap langkah warga yang melintasinya, ada jejak pengabdian yang tidak akan luntur oleh panas, maupun hanyut oleh hujan.