Home LENSA Mengantar dengan Kehormatan, Sakralitas dan Solidaritas dalam Upacara Rambu Solo’ Toraja di Kota Taman
LENSA

Mengantar dengan Kehormatan, Sakralitas dan Solidaritas dalam Upacara Rambu Solo’ Toraja di Kota Taman

5

Tampak dari udara, ratusan warga dan rumpun keluarga bergotong royong mengarak peti jenazah dalam prosesi Mapasonglo’ (bagian dari ritual Ma’palao). Peti jenazah diletakkan di dalam Saroan, usungan khusus berbentuk miniatur rumah adat Tongkonan, yang ditopang jalinan bambu tebal (palle) dan diiringi sorak-sorai (ma’yaya) untuk membakar semangat. Di barisan depan, para wanita keluarga membentangkan kain merah panjang (Lamba-Lamba) sebagai simbol penuntun jalan sekaligus lambang ikatan tali persaudaraan dan garis keturunan yang menyatukan mereka. Dengan balutan pakaian duka serba hitam, prosesi ini secara simbolis mengantarkan perjalanan roh mendiang menuju alam arwah (Puya).

FOTOGRAFER: Indra Gunawan

Masyarakat suku Toraja di Kota Bontang menggelar upacara adat Rambu Solo’ sebagai wujud penghormatan terakhir atas berpulangnya salah satu tokoh Toraja terkemuka di Kota Bontang. Meskipun diselenggarakan jauh dari tanah asal di Sulawesi Selatan, serangkaian ritual adat ini berlangsung dengan penuh hikmat dan megah di Kota Bontang tanpa mengurangi kesakralannya. Kematian dalam tradisi masyarakat Toraja bukanlah akhir kehidupan yang tragis, melainkan sebuah ikhtiar transformasi spiritual (To Mabiang/To Mula) untuk mengantarkan arwah mendiang menuju alam nirwana (Puya). Melalui serangkaian ritual adat, mulai dari prosesi arak-arakan usungan peti (Mapasonglo’), ikatan tali persaudaraan kain merah (Lamba-Lamba), tradisi penerimaan tamu dan penerimaan hewan persembahan (Ma’ Babi), penyembelihan (Mantunu), pembawaan kerbau belang sakral (Tedong Bonga), hingga persemayaman patung Tau-Tau di panggung Lakkian dimana seluruh tatanan masyarakat serta kerabat bergotong royong menanggung kebersamaan duka. Rangkaian ritual ini tidak hanya menjaga kelestarian tradisi leluhur Aluk Todolo di perantauan, tetapi juga memperlihatkan kuatnya semangat solidaritas (Sipatuo Sipatokkong) kerukunan keluarga Toraja di Kota Bontang.

Rombongan tamu dan kerabat tiba di lokasi upacara adat dengan menandu babi menggunakan bilah bambu secara gotong royong. Dalam ritus Ma’giri’ / Mappatama, kedatangan sanak keluarga yang membawa babi (Ma’ Babi) atau kerbau bukan sekadar tanda duka cita, melainkan terikat dalam sistem Pasa’ / Pa’kedo (utang-piutang adat dan ganti rugi sosial). Hewan persembahan ini dicatat secara resmi oleh petugas adat sebelum disembelih (Mantunu) pada puncak acara, di mana dagingnya dibagikan (Ma’paliu) kepada masyarakat. Ritus ini mencerminkan semangat Sipatuo Sipatokkong (gotong royong) menanggung beban upacara bersama-sama.

Suasana khidmat dan penuh rasa hormat terpancar dari raut wajah para tamu dan tokoh adat yang duduk bersama di bawah Lantang (pondok sementara berhias khas Toraja). Menghadiri Rambu Solo’ adalah bentuk empati, ikatan sosial, dan penghormatan setinggi-tingginya kepada almarhum/ah serta keluarga yang ditinggalkan. Sentuhan aksesoris tradisional seperti ikat kepala Passapu yang berdampingan dengan pakaian modern (topi cowboy, kemeja, dan kacamata hitam) menggambarkan keharmonisan akulturasi budaya, di mana identitas dan nilai-nilai tradisi Toraja tetap lestari di tengah era modern.

Sesosok kerbau belang (Tedong Bonga) dituntun oleh warga dalam iring-iringan menuju arena upacara Rambu Solo’. Bagi masyarakat Toraja yang memegang adat Aluk Todolo, Tedong Bonga bernilai sangat tinggi dan kedudukannya amat sakral sebagai “kendaraan” spiritual yang mengantarkan roh mendiang menuju dunia arwah (Puya). Kehadiran kerbau bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah ini melambangkan wujud bakti (tombek), kasih sayang terakhir keluarga, serta penghormatan tertinggi atas status sosial almarhum/ah.

Di panggung tinggi Lakkian yang dihiasi ukiran Pa’ssura’ berwarna merah, hitam, dan kuning, berdiri patung kayu Tau-Tau yang menyerupai wujud mendiang. Masyarakat Toraja percaya bahwa roh almarhum/ah (Tomate) masih berada di sekitar keluarga hingga seluruh prosesi Rambu Solo’ selesai. Kehadiran Tau-Tau bersama ornamen kepala kerbau (Kabongo’) menjadi simbol kehadiran visual mendiang serta penanda kehormatan keluarga. Dipadukan dengan para pelayat berbusana hitam yang duduk tenang di sekitarnya, momen ini menegaskan bahwa kematian dalam adat Toraja adalah sebuah perjalanan spiritual yang diantarkan dengan kehormatan tertinggi.

Related Articles

BONTANGLENSA

Bontang City Carnival 2025: Gemerlap Pertunjukan dan Sumber Penghidupan Warga

Di tengah gemerlap pertunjukan, ekonomi rakyat ikut bergeliat. Penjual mainan gelembung dan...

BONTANGLENSA

Paskibraka Kota Bontang 2025 Dikukuhkan, Penuh Haru dan Semangat

Sebuah ciuman khidmat di bendera pusaka, menandakan janji suci dan kehormatan. Pengukuhan...

BONTANGLENSA

Dari Dapur ke Sekolah, Program Makanan Gratis Dimulai di Kota Taman

Petugas menyusun nampan untuk kemudian diisi dengan berbagai lauk FOTOGRAFER: Indra Asap...