Reynaldi Kristian Nugroho, Anugrah Fadly Kreato Seniman, dan Kaleb Wirayodhya Herawan yang merupakan para peserta Pameran Lukisan Online Karya Anak Istimewa. (FOTO: Ist.)
BONTANG. Belasan anak-anak Neurodivergen ikut memeriahkan event Virtual Run for EMPATHY 2026 lewat Pameran Lukisan Online Karya Anak Istimewa. Melalui ruang inklusif ini, para ayah dari beberapa peserta membagikan kisah perjuangan, keteguhan, serta harapan agar buah hati mereka yang merupakan anak-anak istimewa mendapat penerimaan yang layak di masyarakat.
Karya-karya memukau dari para anak istimewa ini dapat disaksikan secara daring oleh masyarakat luas melalui laman resmi penyelenggara di https://events.web.id/run-for-empathy-2026/. Kehadiran pameran ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik maupun kognitif bukan hambatan bagi anak-anak tersebut untuk mengekspresikan dunia mereka lewat seni.

Sampul album Pameran Karya Anak Istimewa di web https://events.web.id/run-for-empathy-2026/ (FOTO: Ist.)
Kisah pertama datang dari Rully Andrianto, ayah dari Reynaldi Kristian Nugroho (27) atau Aldi, anak istimewa dengan diagnosis Autism Spectrum Disorder (ASD) dan ADHD sejak usia empat tahun. Rully mengisahkan bagaimana bakat sang anak tumbuh dari kebiasaan mencoret-coret kertas hingga akhirnya mendapatkan wadah apresiasi yang tepat.
“Harapan kami sebagai orang tua, anak-anak neurodivergen ini bisa terus berdaya jika diberi kesempatan dan penerimaan yang tulus. Melalui karya-karyanya, anak kami ingin menyampaikan bahwa ‘kami tidak rusak, kami hanya berbeda’,” ungkap Rully menyampaikan pesan mendalam sang anak.

Lukisan Karya Reynaldi Kristian Nugroho. (FOTO: ISt.)
Cerita inspiratif juga dihadirkan oleh Samodro, ayah dari Anugrah Fadly Kreato Seniman (28). Berkat ketekunan keluarga dalam mengarahkan potensinya sejak usia dua tahun, anak istimewa penyandang Autism Asperger ini tidak hanya mampu menghasilkan lukisan yang indah, tetapi juga sukses menembus batas akademik hingga bersiap melanjutkan studi ke jenjang Doktoral (S3).
“Kami percaya setiap manusia diciptakan dengan potensi yang luar biasa. Kuncinya ada pada ketepatan guru atau tutor yang mampu melihat dan mengarahkan potensi tersebut hingga anak kami bisa berkembang sejauh ini,” tutur Samodro.

Lukisan karya Anugrah Fadly Kreato Seniman. (FOTO: Ist.)
Tak kalah menggugah, Kurniadi Herawan yang merupakan ayah dari Kaleb Wirayodhya Herawan (15) turut membagikan kebanggaannya atas pencapaian sang anak. Kaleb yang merupakan siswa sekolah khusus autis ini telah membuktikan kemampuannya dengan menyabet Juara 2 Lomba Melukis tingkat SMPLB/SMALB HUT SMPLBN 2 Bantul tahun 2025, yang trofinya diserahkan langsung oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi.
“Kehadiran anak spesial seperti Kaleb bukanlah sebuah aib bagi keluarga, mereka justru butuh disayangi dan diterima di lingkungan. Kami sangat berterima kasih kepada panitia VRFE yang sudah memberikan ruang inklusif bagi anak-anak kami untuk berkarya,” kata Kurniadi penuh haru.

Lukisan karya Kaleb Wirayodhya Herawan. (FOTO: Ist.)
Event Virtual Run for EMPATHY 2026 yang diselenggarakan oleh AFS Neurocare Community dan didukung oleh AFS Indonesia serta Bina Antarbudaya ini tidak sekadar menjadi ajang olahraga virtual, melainkan sebuah gerakan sosial. Melalui Pameran Lukisan Online Karya Anak Istimewa, masyarakat diajak untuk membuka mata dan memberikan dukungan penuh terhadap pemenuhan hak serta ruang berekspresi bagi anak-anak neurodivergen.
PENULIS: Rudy