Home GAYA HIDUP Meluruskan Mitos “Real Foods”: Tak Melulu Kukus dan Rebus, Goreng pun Bisa Sehat
GAYA HIDUP

Meluruskan Mitos “Real Foods”: Tak Melulu Kukus dan Rebus, Goreng pun Bisa Sehat

240

dr. Dion Haryadi di kontennya terkait real foods (FOTO: SC IG dionharyadi)

BONTANG.  Istilah real foods kerap dianggap sebagai standar emas pola makan sehat. Namun, di masyarakat masih banyak salah kaprah soal makna sebenarnya dari konsep ini. Dokter sekaligus certified nutrition coach dan konten kreator kesehatan, dr. Dion Haryadi, PN1, mencoba meluruskan pemahaman tersebut melalui edukasi yang ia bagikan di akun Instagram pribadinya, @dionharyadi.

Menurut penjelasan dr. Dion di salah satu postingannya, real foods adalah makanan yang bentuknya masih mendekati aslinya dan tidak melalui proses pengolahan berlebihan. Contohnya antara lain daging, telur, sayuran, hingga tempe yang diberi bumbu lalu dimasak secara sederhana. Metode memasaknya pun beragam, mulai dari dikukus, direbus, ditumis, dipanggang, dibakar, digoreng, hingga menggunakan air fryer.

“Salah paham yang sering terjadi adalah anggapan bahwa real foods itu hanya yang dikukus atau direbus. Padahal, ditumis, dipanggang, bahkan digoreng juga masih termasuk real foods,” jelasnya.

Tak hanya itu, dr. Dion juga menekankan bahwa konsumsi real foods saja tidak otomatis menjamin kesehatan. Pola makan tetap harus seimbang. Jika seseorang hanya mengonsumsi makanan berbahan real foods tetapi didominasi karbohidrat, porsinya berlebihan, dan minim protein maupun zat gizi lain, maka dampaknya tetap bisa kurang baik bagi kesehatan.

Di sisi lain, ia juga mengajak masyarakat untuk tidak serta-merta memusuhi processed foods. Makanan olahan seperti roti, misalnya, tidak akan langsung membuat seseorang menjadi tidak sehat jika dikonsumsi dengan bijak. Kunci utamanya ada pada pengaturan porsi, frekuensi, serta cara mengombinasikannya dengan protein, lemak, dan serat yang cukup, sambil tetap memprioritaskan real foods bergizi seimbang.

“Pengkotak-kotakan antara real foods dan bukan real foods sering kali justru membingungkan dan kurang efektif untuk membantu orang makan lebih sehat,” ungkap dr. Dion.

Ia mencontohkan nugget buatan rumah (homemade) yang kerap langsung dicap tidak sehat hanya karena namanya, padahal bahan dasarnya bisa berasal dari makanan utuh dan berkualitas.

Lebih jauh, dr. Dion menegaskan bahwa pola makan terbaik adalah pola makan yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga realistis dan bisa dijalani dalam jangka panjang. Makanan, menurutnya, bukan sekadar soal gizi, melainkan juga tentang kebersamaan, pengalaman, dan memori bersama keluarga maupun teman.

“Sering kali processed foods juga menjadi bagian dari momen-momen tersebut, dan tidak ada yang salah untuk menikmatinya secara bertanggung jawab,” tutupnya.

Edukasi seperti ini diharapkan dapat membantu masyarakat memiliki hubungan yang lebih sehat dengan makanan, tidak berlebihan dalam membatasi, namun tetap sadar akan kualitas dan keseimbangan gizi.

 

narasipedia logo N jadi

NARASIPEDIA

Kabar Baik Untuk Semua

Trending Now

Hot Topics

Related Articles

ENTERTAINMENTGAYA HIDUPKALTIMSAMARINDA

Pecinta Ska dan Vespa Merapat! Mods Mayday 2026 Hadirkan Denny Frust di Samarinda

SAMARINDA. Musisi nasional bergenre ska dan reggae, Denny Frust, dijadwalkan tampil dan...

BONTANGGAYA HIDUP

Odah Etam: Dari Bontang Menembus Pasar Dunia, Jadi Koleksi Wajib Para Kolektor Anime Kelas Atas

Gading Marten, Ben Whittaker, dan Ari Lesmana (Kiri ke kanan), mengenakan produk...

GAYA HIDUP

Idulfitri atau Idul Fitri? Simak Penulisan yang Baku Menurut KBBI

BONTANG. Menjelang perayaan hari besar keagamaan, masyarakat sering kali masih keliru dalam...

BONTANGGAYA HIDUP

Ini 5 Manfaat Kurma, Bukan Sekadar Takjil Manis di Bulan Ramadan

Berbagai jenis kurma (FOTO: AI Generated) Bontang. Hari ini umat Muslim di...

Tentang Kami

Tentang | Kontak | Kru narasipedia | Pedoman Media Siber

Sosial Media

© Copyright 2025 - PT. Pedia Media Nusantara - narasipedia.net