Kepala Bidang Statistik dan Persandian Diskominfo Kota Bontang, Agus Salim Umar, pada saat memaparkan strategi penguatan ruang digital. (FOTO: Rudy / narasipedia.net)
BONTANG. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bontang memaparkan strategi penguatan ruang digital dalam Forum Konsultasi Publik yang digelar di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Jumat (19/6/2026). Pemkot Bontang kini fokus mengoptimalkan lima layanan utama di Bidang Statistik dan Persandian.
Kepala Bidang Statistik dan Persandian Diskominfo Kota Bontang, Agus Salim Umar, menjabarkan bahwa kelima layanan tahunan tersebut berfokus pada penanganan pengaduan siber, sertifikat elektronik, hingga publikasi data sektoral.
“Ada lima layanan yang kita berikan kepada pemerintah atau umum khususnya setiap tahun. Yang pertama penanganan pengaduan, kedua permohonan perbaikan sertifikat elektronik, ketiga pengeluaran data sertifikat elektronik, keempat pembatalan pengajuan permohonan, dan kelima adalah permohonan publikasi data sertifikat,” ucapnya.
Dalam hal digitalisasi dokumen, Agus menjelaskan bahwa penggunaan Tanda Tangan Elektronik (TTE) kini menjadi kebutuhan mutlak di era modern untuk mempermudah birokrasi.
“Kenapa saat ini kita menggunakan tanda tangan elektronik? Karena kita sudah masuk dalam era digitalisasi. Dengan adanya TTE ini kita dipermudah. Pejabat yang melakukan tanda tangan itu di mana pun dia berada boleh melakukan ini, apakah di luar negeri ataupun di dalam negeri sendiri,” terangnya menambahkan keuntungan konsep paperless tersebut.
Hingga tahun 2026, implementasi TTE aktif di lingkungan Pemkot Bontang telah mencapai 771 user, dengan tingkat adopsi mencapai 100% pada Eselon IIA, IIB, dan IIIA. Pemanfaatan ini berjalan masif pada tiga sistem utama, yaitu Aplikasi Perizinan Digital di PTSP, Aplikasi SIMBaJa di pengelola barang dan jasa, serta Aplikasi SIMRS di RSUD. Seluruh layanan penerbitan sertifikat elektronik ini diberikan secara gratis.
Di sisi lain, keamanan informasi menjadi sorotan tajam setelah infrastruktur digital Kota Bontang tercatat dihantam 16.223.313 total serangan siber dalam periode Agustus 2025 hingga Mei 2026, dengan mayoritas serangan berasal dari luar negeri seperti Amerika Serikat dan Singapura. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemkot Bontang telah membentuk Tim Tanggap Insiden Siber (CSIRT) yang melibatkan agen siber di seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Kita upayakan teman-teman yang ada di OPD masuk dalam tim teknis penangkap insiden siber. Ketika ada sistem yang ada di lingkungan OPD bermasalah, bisa melakukan komunikasi dan koordinasi secara kombinasi,” jelasnya.
Sementara itu, pada pilar statistik, Diskominfo selaku Wali Data terus melakukan pendampingan Satu Data Indonesia kepada seluruh OPD. Langkah ini membuahkan hasil positif dengan nilai Evaluasi Penyelenggaraan Statistik Sektoral (EPSS) dari BPS yang kini merangkak naik mendekati nilai 3,4 atau berkategori Baik.