Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha. (FOTO: Re/narasipedia.net)
BONTANG. Turnamen mini soccer Dispopar Cup disebut bukan hanya tentang mencari pemenang, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kebersamaan antarpegawai pemerintah. Kegiatan ini dinilai memiliki nilai strategis dalam memperkuat hubungan antarlembaga, terutama di tengah rutinitas kerja yang padat dan cenderung formal. Melalui olahraga, suasana yang biasanya kaku dapat berubah menjadi lebih santai dan penuh interaksi.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, menyampaikan bahwa nilai silaturahmi menjadi inti dari kegiatan tersebut. Ia menekankan bahwa momentum seperti ini penting untuk menjaga keharmonisan hubungan kerja, sehingga komunikasi antarpegawai dapat terjalin lebih baik di luar konteks kedinasan. Menurutnya, kedekatan emosional yang terbangun akan berdampak positif pada kolaborasi kerja ke depan.
“Menurut saya ini sangat positif. Karena bukan hanya kompetisi, tetapi juga ajang silaturahmi,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Ia melihat bahwa antusiasme peserta juga menunjukkan bahwa kegiatan semacam ini memang dibutuhkan sebagai sarana penyegaran sekaligus penguat kebersamaan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk menyalurkan energi secara positif.
Dirinha menilai, kegiatan seperti ini mampu mempererat hubungan antarinstansi yang selama ini lebih banyak berinteraksi secara formal. Dalam keseharian, komunikasi antarpegawai seringkali terbatas pada urusan pekerjaan, sehingga ruang untuk membangun kedekatan personal menjadi minim. Turnamen ini menjadi jembatan untuk memperluas interaksi tersebut.
Dengan adanya turnamen, suasana menjadi lebih cair dan penuh keakraban. Para peserta dapat berinteraksi tanpa sekat jabatan maupun instansi, sehingga tercipta suasana yang lebih egaliter. Hal ini diyakini mampu menumbuhkan rasa saling memahami dan menghargai satu sama lain.
“Marwahnya adalah menjaga kekompakan. Tapi kata kuncinya tetap silaturahmi,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kekompakan yang terbangun dari kegiatan seperti ini bukan hanya berdampak pada suasana kerja, tetapi juga pada kualitas pelayanan kepada masyarakat. Ketika hubungan internal kuat, maka kinerja organisasi juga akan semakin solid.
Ia menambahkan bahwa meskipun pada akhirnya akan ada tim yang keluar sebagai juara, hal tersebut bukan tujuan utama.
Menurutnya, orientasi kegiatan ini lebih kepada proses kebersamaan dan pengalaman yang dirasakan seluruh peserta. Dengan begitu, setiap tim tetap mendapatkan manfaat meski tidak meraih kemenangan.
Yang terpenting, lanjutnya, adalah bagaimana seluruh peserta dapat menikmati prosesnya dengan baik. Rasa senang dan kebersamaan yang tercipta selama pertandingan menjadi nilai yang jauh lebih berharga dibanding sekadar hasil akhir. Hal ini juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan harmonis.
Pun dirinya juga mengingatkan pentingnya menjunjung nilai fair play. Menurutnya, sikap sportif akan menciptakan pertandingan yang sehat, kompetitif, namun tetap menyenangkan bagi semua pihak. Ia berharap seluruh peserta mampu menjaga sikap dan emosi selama bertanding.
“Jangan sampai emosi menguasai permainan,” tutupnya.
Ia mengingatkan bahwa olahraga sejatinya adalah sarana untuk mempererat persaudaraan, bukan sebaliknya. Dengan menjunjung tinggi sportivitas, tujuan utama kegiatan ini diyakini dapat tercapai secara maksimal.
PENULIS: Re