DKP3 Bontang saat melakukan pemantauan lahan jagung di Bontang Lestari. (FOTO: SP/narsipedia.net)
BONTANG. Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang terus memperkuat pengawasan terhadap pengembangan komoditas jagung di wilayah Bontang Lestari. Melalui staf dan penyuluh pertanian, monitoring dilakukan secara berkala untuk memetakan kondisi lahan sekaligus memastikan pertumbuhan tanaman berjalan optimal.
Kepala Bidang Pertanian DKP3 Kota Bontang, Fadli, mengatakan kegiatan monitoring difokuskan di sejumlah kelompok tani, yakni Poktan Karya Maju Sejahtera, Harapan Abadi Lestari, dan Sabar Menanti. Total lahan yang dipantau mencapai sekitar 15 hektare.
Menurut Fadli, kegiatan tersebut bukan hanya dilakukan sekali, melainkan telah berlangsung sejak Mei 2026 dan hingga kini masih terus berlanjut sebagai bagian dari pendampingan kepada petani.
“Monitoring dilakukan secara berkesinambungan. Kami ingin memastikan perkembangan lahan dan tanaman jagung dapat terpantau dengan baik sehingga setiap persoalan di lapangan bisa segera ditindaklanjuti,” ujarnya, Senin (3/8/2026).
Ia menjelaskan, monitoring tidak hanya mendata lahan yang telah ditanami jagung, tetapi juga memetakan lahan yang masih siap tanam. Seluruh lokasi dipetakan menggunakan sistem polygon untuk mengetahui luasan lahan secara akurat.
Apabila lahan telah ditanami, tim penyuluh akan mengevaluasi kondisi pertumbuhan tanaman. Pemeriksaan mencakup kemungkinan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), dampak perubahan iklim seperti banjir maupun kekeringan, hingga identifikasi tanaman yang telah memasuki masa panen atau sedang dipanen.
“Hasil monitoring berupa data polygon lahan yang sudah maupun belum ditanami jagung. Dari situ kami bisa mengetahui luas lahan yang terdampak apabila terjadi serangan hama ataupun pengaruh perubahan iklim,” jelas Fadli.
Data tersebut menjadi dasar bagi DKP3 dalam menentukan langkah penanganan. Jika ditemukan serangan OPT, penyuluh akan memberikan rekomendasi teknis dan solusi pengendalian sesuai kondisi di lapangan agar produktivitas tanaman tetap terjaga.
Selain pendampingan teknis, hasil monitoring juga dimanfaatkan untuk menyusun kebutuhan benih jagung. Fadli mengatakan jumlah benih yang disiapkan akan disesuaikan dengan luas lahan yang benar-benar digarap petani.
“Perencanaan kebutuhan benih tidak dilakukan secara sembarangan. Kami sesuaikan dengan luasan lahan budidaya sehingga distribusi bantuan maupun program pengembangan jagung menjadi lebih tepat sasaran,” katanya.
DKP3 berharap pemetaan yang dilakukan secara rutin mampu meningkatkan efektivitas pengembangan pertanian jagung di Kota Bontang. Dengan data yang akurat, pemerintah dapat mengambil kebijakan yang lebih tepat, mulai dari penyaluran bantuan benih, pendampingan budidaya, hingga langkah mitigasi apabila terjadi gangguan akibat hama maupun perubahan iklim.
PENULIS: SP