Ilustrasi nongkrong sambil bekerja di cafe (FOTO: freerangstock.com)
BONTANG. Gaya nongkrong anak muda kini mengalami pergeseran. Jika dulu nongkrong identik dengan bersantai dan berbincang, kini muncul tren baru yang dikenal dengan istilah nongkrong produktif. Tren ini kian populer di kalangan Gen Z, terutama di tengah berkembangnya budaya kerja fleksibel dan aktivitas digital.
Nongkrong produktif merujuk pada kebiasaan memilih kafe atau ruang publik yang tidak hanya nyaman untuk bersantai, tetapi juga mendukung aktivitas bekerja, mengerjakan tugas, hingga membuat konten media sosial. Kafe dengan WiFi stabil, banyak colokan listrik, pencahayaan estetik, serta suasana tenang menjadi pilihan utama.
Tak jarang, pengunjung datang membawa laptop, tablet, atau kamera, lalu menghabiskan waktu berjam-jam untuk bekerja sambil menikmati kopi. Fenomena ini banyak dijumpai di kota-kota besar hingga daerah, seiring meningkatnya jumlah pekerja lepas, mahasiswa, dan content creator.
Istilah nongkrong produktif mulai populer digunakan di sejumlah media gaya hidup Indonesia untuk menggambarkan perubahan kebiasaan anak muda yang memanfaatkan kafe sebagai ruang kerja, belajar, dan berjejaring. Tren ini juga dikenal dengan sebutan work from café, yang menjadi alternatif bekerja di luar rumah maupun kantor.
Selain menunjang produktivitas, suasana kafe dinilai mampu meningkatkan kreativitas. Lingkungan baru, musik yang menenangkan, serta interaksi sosial ringan dianggap membantu memunculkan ide-ide segar dibandingkan bekerja di tempat yang monoton.
Di sisi lain, tren nongkrong produktif turut memengaruhi konsep usaha kafe. Pemilik usaha kini tidak hanya fokus pada menu makanan dan minuman, tetapi juga menghadirkan pengalaman ruang yang nyaman, ramah kerja, dan mendukung aktivitas digital pengunjung.
Nongkrong produktif pun menjadi simbol gaya hidup baru anak muda: tetap santai, tetap sosial, namun tetap produktif. Sebuah cerminan cara Gen Z beradaptasi dengan ritme hidup modern yang serba fleksibel.