BONTANG. Menjelang perayaan hari besar keagamaan, masyarakat sering kali masih keliru dalam menuliskan istilah hari raya umat Muslim. Berdasarkan aturan baku bahasa Indonesia, penulisan yang tepat adalah Idulfitri, bukan Idul Fitri.
Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “Idulfitri” dikategorikan sebagai bentuk baku yang ditulis serangkai tanpa menggunakan spasi. Ketentuan ini berlaku untuk seluruh penggunaan formal, mulai dari dokumen kenegaraan hingga pesan ucapan di media sosial.
“Tahukah kamu penulisan yang tepat adalah “Idulfitri”. Sesuai dengan KBBI V, kata Idulfitri ditulis disambung, tidak dipisah,” tulis keterangan dalam laman X resmi Kemdikdasmen.
Selain Idulfitri, kaidah penulisan serupa juga berlaku untuk istilah Iduladha dan Halalbihalal. Kedua istilah tersebut harus ditulis serangkai tanpa jeda spasi di tengahnya. Secara etimologi, meskipun berasal dari dua kata dalam bahasa Arab, proses penyerapan ke dalam bahasa Indonesia telah membakukannya menjadi satu kata tunggal.
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) juga menekankan bahwa sebagai nama hari raya, huruf pertama harus menggunakan huruf kapital. Dengan demikian, penulisan yang sempurna menurut kaidah adalah “Selamat Hari Raya Idulfitri”.
Masyarakat diimbau untuk mulai membiasakan penulisan baku ini, terutama dalam pembuatan spanduk, baliho, maupun administrasi resmi, guna menjaga konsistensi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.