Ketua Komisi A DPRD Bontang, Heri Keswanto (FOTO : AD/narasipedia.net)
BONTANG. Upaya penguatan layanan bagi anak berkebutuhan khusus di Kota Bontang masih menghadapi kendala pada aspek kelembagaan Pusat Layanan Autis (PLA) center.
Ketua Komisi A DPRD Bontang, Heri Keswanto, mengungkapkan bahwa proses penetapan struktur organisasi PLA hingga kini belum tuntas, sehingga berdampak pada keterbatasan sumber daya manusia, khususnya tenaga terapis.
“Prosesnya masih berjalan. Dari gubernur baru sampai ke pemerintah kota, kemudian akan disesuaikan dalam perubahan perwali bersama dengan UPT-UPT lainnya. Jadi ini satu paket,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan, belum rampungnya kelembagaan tersebut membuat pemerintah daerah belum dapat melakukan penambahan tenaga pembina maupun terapis, meskipun kebutuhan di lapangan cukup mendesak.
“Kalau kelembagaannya belum jelas, kita belum bisa menambah tenaga. Padahal kebutuhan terapis ini sangat penting,” katanya.
Saat ini, Autis Center Bontang hanya memiliki tiga terapis aktif. Jumlah tersebut berkurang dari sebelumnya enam orang, setelah sebagian tenaga yang telah disekolahkan justru memilih mengikuti seleksi CPNS di daerah lain dan dinyatakan lulus.
“Dulu ada enam yang kita sekolahkan, tapi sebagian ikut CPNS di daerah tetangga dan lolos. Sekarang tinggal tiga,” ungkapnya.
Kondisi ini dinilai cukup menghambat optimalisasi layanan, terlebih fasilitas penunjang terapi sebenarnya sudah tersedia meskipun belum sepenuhnya ideal.
“Alatnya ada, bisa dibilang cukup, tapi kalau tidak ada terapis, tentu tidak maksimal. Ini juga jadi kerugian kalau fasilitas tidak dimanfaatkan dengan baik,” tegas Heri.
Politisi Gerindra ini berharap proses kelembagaan Autis Center dapat segera rampung tahun ini, sehingga pemerintah dapat membuka rekrutmen tenaga terapis baru dan meningkatkan kualitas layanan bagi anak-anak autisme di Bontang.
“Mudah-mudahan tahun ini selesai, supaya kita bisa segera menambah tenaga dan pelayanan bisa lebih optimal,” tutupnya.
PENULIS : AD