DKP3 Bontang melakukan pendampingan sosialisasi kepada nelayan di pesisir terkait dengan mitigasi bencana. (FOTO: AP/narasipedia.net)
BONTANG. Upaya memperkuat ketahanan masyarakat pesisir terus dilakukan Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang. Salah satu langkah yang ditempuh ialah meningkatkan pemahaman warga mengenai mitigasi bencana agar aktivitas perikanan tetap berjalan aman di tengah ancaman cuaca ekstrem dan perubahan iklim.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan penyadartahuan mitigasi bencana di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang digelar di UPTD Balai Benih Ikan (BBI) Kota Bontang, Kamis (30/7/2026). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi DKP3 Bontang bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Budidaya DKP3 Kota Bontang, Syamsu Wardi, mengatakan edukasi menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor kelautan dan perikanan.
Menurutnya, masyarakat pesisir harus memahami potensi ancaman bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu, mulai dari cuaca ekstrem, gelombang tinggi hingga kondisi lain yang berpotensi mengganggu keselamatan maupun aktivitas ekonomi.
“Melalui kegiatan ini kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana sekaligus memberikan pemahaman mengenai langkah-langkah mitigasi yang harus dilakukan sebelum, saat, hingga setelah bencana terjadi. Harapannya masyarakat lebih siap dan mampu mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat,” ujar Syamsu Wardi.
Ia menjelaskan, sebagai daerah yang memiliki kawasan pesisir dan aktivitas perikanan cukup tinggi, Bontang membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan menghadapi berbagai potensi bencana. Kesiapsiagaan dinilai bukan hanya untuk melindungi keselamatan masyarakat, tetapi juga menjaga keberlangsungan usaha nelayan, pembudidaya ikan, hingga pelaku usaha perikanan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan materi mengenai sistem peringatan dini, identifikasi potensi bahaya, serta langkah-langkah penyelamatan yang dapat diterapkan di lingkungan masing-masing. Edukasi itu diharapkan mampu menumbuhkan budaya sadar risiko sehingga masyarakat dapat merespons kondisi darurat secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Syamsu menambahkan, kolaborasi antara pemerintah kota dan pemerintah provinsi menjadi strategi penting dalam memperkuat kapasitas masyarakat pesisir. Sinergi lintas instansi dinilai mampu menghadirkan program yang lebih efektif sekaligus menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat.
“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai di sini. Edukasi harus dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat pesisir semakin tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim maupun potensi bencana yang dapat mengancam sektor perikanan,” katanya.
DKP3 Bontang optimistis peningkatan kapasitas masyarakat akan berdampak positif terhadap keberlanjutan sektor perikanan di Kota Taman. Dengan masyarakat yang lebih siap menghadapi risiko, aktivitas penangkapan maupun budidaya ikan dapat berlangsung lebih aman dan produktif.
Selain memperkuat perlindungan terhadap keselamatan masyarakat, kesiapsiagaan juga menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas produksi perikanan yang selama ini menjadi salah satu penopang perekonomian daerah. Melalui edukasi yang berkesinambungan, DKP3 berharap masyarakat pesisir mampu menjadi garda terdepan dalam membangun lingkungan yang tangguh terhadap bencana sekaligus mendukung pembangunan Kota Bontang yang berkelanjutan.