BONTANG. Papan ketik atau keyboard dengan susunan QWERTY sudah menjadi standar global yang kita gunakan sehari-hari, baik di laptop, komputer, maupun ponsel pintar. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa huruf-huruf di papan ketik tidak disusun secara berurutan dari A sampai Z? Usut punya usut, susunan QWERTY yang kita kenal sekarang ternyata diciptakan bukan untuk membuat kita mengetik lebih cepat, melainkan justru untuk memperlambatnya.
Sejarah ini bermula pada era penemuan mesin tik mekanik di akhir abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1870-an oleh seorang penemu asal Amerika Serikat bernama Christopher Latham Sholes. Berdasarkan dokumen resmi paten yang diarsipkan oleh United States Patent and Trademark Office (USPTO) dengan nomer paten 0079265, prototipe awal mesin tik buatan Sholes awalnya menggunakan susunan huruf secara alfabetis (A, B, C, D, dan seterusnya).
Masalah besar pun muncul: ketika para juru ketik sudah mahir, mereka mengetik dengan sangat cepat. Akibat kecepatan tersebut, batang-batang huruf (typebars) di dalam mesin tik mekanik sering kali saling berbenturan, menyilang, dan akhirnya macet total (jamming).
Untuk mengatasi masalah kemacetan mekanis tersebut, Christopher Latham Sholes bersama rekannya memutar otak. Seperti yang diulas mendalam oleh majalah sejarah Smithsonian Magazine, mereka sengaja mengacak posisi huruf-huruf yang paling sering digunakan berdampingan dalam bahasa Inggris agar letaknya terpisah jauh.
Dengan memisahkan kombinasi huruf yang sering muncul secara bersamaan, kecepatan tangan juru ketik terpaksa melambat, sehingga mesin tik dapat bekerja dengan lancar tanpa macet. Susunan enam huruf pertama di pojok kiri atas baris huruf yakni Q-W-E-R-T-Y yang kemudian dipatenkan dan menjadi standar industri hingga saat ini.
Meskipun teknologi mekanik mesin tik sudah lama ditinggalkan dan digantikan oleh papan ketik digital atau layar sentuh, susunan QWERTY tetap dipertahankan. Alasannya sederhana: faktor kebiasaan (muscle memory) jutaan pengguna di seluruh dunia yang sudah terlanjur terbiasa dengan pola tersebut.