dr. Dion Haryadi di kontennya terkait real foods (FOTO: SC IG dionharyadi)
BONTANG. Istilah real foods kerap dianggap sebagai standar emas pola makan sehat. Namun, di masyarakat masih banyak salah kaprah soal makna sebenarnya dari konsep ini. Dokter sekaligus certified nutrition coach dan konten kreator kesehatan, dr. Dion Haryadi, PN1, mencoba meluruskan pemahaman tersebut melalui edukasi yang ia bagikan di akun Instagram pribadinya, @dionharyadi.
Menurut penjelasan dr. Dion di salah satu postingannya, real foods adalah makanan yang bentuknya masih mendekati aslinya dan tidak melalui proses pengolahan berlebihan. Contohnya antara lain daging, telur, sayuran, hingga tempe yang diberi bumbu lalu dimasak secara sederhana. Metode memasaknya pun beragam, mulai dari dikukus, direbus, ditumis, dipanggang, dibakar, digoreng, hingga menggunakan air fryer.
“Salah paham yang sering terjadi adalah anggapan bahwa real foods itu hanya yang dikukus atau direbus. Padahal, ditumis, dipanggang, bahkan digoreng juga masih termasuk real foods,” jelasnya.
Tak hanya itu, dr. Dion juga menekankan bahwa konsumsi real foods saja tidak otomatis menjamin kesehatan. Pola makan tetap harus seimbang. Jika seseorang hanya mengonsumsi makanan berbahan real foods tetapi didominasi karbohidrat, porsinya berlebihan, dan minim protein maupun zat gizi lain, maka dampaknya tetap bisa kurang baik bagi kesehatan.
Di sisi lain, ia juga mengajak masyarakat untuk tidak serta-merta memusuhi processed foods. Makanan olahan seperti roti, misalnya, tidak akan langsung membuat seseorang menjadi tidak sehat jika dikonsumsi dengan bijak. Kunci utamanya ada pada pengaturan porsi, frekuensi, serta cara mengombinasikannya dengan protein, lemak, dan serat yang cukup, sambil tetap memprioritaskan real foods bergizi seimbang.
“Pengkotak-kotakan antara real foods dan bukan real foods sering kali justru membingungkan dan kurang efektif untuk membantu orang makan lebih sehat,” ungkap dr. Dion.
Ia mencontohkan nugget buatan rumah (homemade) yang kerap langsung dicap tidak sehat hanya karena namanya, padahal bahan dasarnya bisa berasal dari makanan utuh dan berkualitas.
Lebih jauh, dr. Dion menegaskan bahwa pola makan terbaik adalah pola makan yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga realistis dan bisa dijalani dalam jangka panjang. Makanan, menurutnya, bukan sekadar soal gizi, melainkan juga tentang kebersamaan, pengalaman, dan memori bersama keluarga maupun teman.
“Sering kali processed foods juga menjadi bagian dari momen-momen tersebut, dan tidak ada yang salah untuk menikmatinya secara bertanggung jawab,” tutupnya.
Edukasi seperti ini diharapkan dapat membantu masyarakat memiliki hubungan yang lebih sehat dengan makanan, tidak berlebihan dalam membatasi, namun tetap sadar akan kualitas dan keseimbangan gizi.