SDN 003 Bontang Utara. (FOTO: Re/narasipedia.net)
BONTANG. SD Negeri 003 Bontang Utara memastikan seluruh siswa mendapatkan pembinaan keagamaan tanpa terkecuali, termasuk bagi siswa non-Muslim yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Kebijakan itu diterapkan sebagai bentuk komitmen sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif serta menghargai keberagaman latar belakang peserta didik.
Sekolah menyediakan guru agama khusus bagi siswa Kristen dan Hindu agar mereka tetap memperoleh pembinaan sesuai keyakinan masing-masing. Melalui pendampingan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan materi keagamaan, tetapi juga pembentukan karakter dan nilai moral yang menjadi bagian penting dalam pendidikan di sekolah.
Kegiatan pembinaan keagamaan itu dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tadarus dan salat duha yang rutin diikuti siswa Muslim setiap pagi sebelum kegiatan belajar dimulai. Dengan pola tersebut, seluruh siswa tetap memiliki ruang pembinaan spiritual tanpa ada yang merasa dibedakan ataupun diabaikan.
Kepala SD Negeri 003 Bontang Utara, Abdillah, menegaskan bahwa sekolah berupaya memberikan pelayanan yang setara bagi seluruh peserta didik sesuai agama yang dianut masing-masing. Menurutnya, pembinaan keagamaan menjadi bagian penting dalam membentuk sikap disiplin, toleransi, dan karakter siswa sejak usia dini.
“Semua kegiatan tetap berjalan bersamaan, kami pastikan seluruh siswa terfasilitasi sesuai agama masing-masing,” katanya, Kamis (14/5/2026).
Pendekatan tersebut menunjukkan komitmen sekolah dalam menerapkan pendidikan yang inklusif sekaligus menjaga suasana harmonis di lingkungan sekolah. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang bagi siswa untuk tetap belajar bersama dan saling menghargai satu sama lain dalam aktivitas sehari-hari.
Guru agama masing-masing juga memiliki peran penting dalam memberikan bimbingan spiritual sesuai kebutuhan siswa. Selain menyampaikan materi pembelajaran, guru turut membangun komunikasi dengan siswa agar mereka merasa nyaman dan mendapatkan pendampingan yang sesuai selama berada di lingkungan sekolah.
Dengan sistem pembinaan yang diterapkan, sekolah berharap tidak ada siswa yang merasa tertinggal dalam penguatan karakter maupun pendidikan agama. Seluruh kegiatan dirancang secara terstruktur agar setiap siswa memperoleh kesempatan yang sama dalam pengembangan sikap, moral, dan nilai-nilai positif.
“Kami ingin semua anak mendapatkan pembinaan yang adil sesuai dengan keyakinannya masing-masing,” tutupnya.
PENULIS: Re