Sri Puji Astuti Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda (Foto: MJH/narasipedia.net)
SAMARINDA. Dukungan anggaran dan pengelolaan kebudayaan menjadi dua hal yang disoroti Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, dalam pengembangan wisata kota. Ia meminta Pemkot Samarinda memberi perhatian lebih besar pada pelestarian warisan lokal agar dapat memperkuat identitas sekaligus menarik wisatawan.
Menurut Puji, kekayaan budaya membutuhkan kebijakan dan pembiayaan yang jelas. Upaya merawatnya perlu mendapat tempat dalam perencanaan pembangunan daerah.
“Harus ada keberpihakan anggaran untuk pemajuan dan pelestarian budaya,” ujarnya, Kamis (8/10/2026).
Ia juga mengusulkan penataan kelembagaan melalui pemisahan urusan kebudayaan dari pendidikan atau penggabungannya dengan pariwisata. Pilihan tersebut, menurutnya, dapat mendekatkan kegiatan pelestarian dengan promosi wisata.
“Kalau kebudayaan dikelola bersama pariwisata, dampaknya akan lebih terasa,” ungkapnya.
Puji mengatakan usulan itu akan disampaikan kepada pemerintah kota. Ia berharap pembahasan dapat diikuti langkah konkret untuk memperkuat pengelolaan budaya Samarinda.
Namun, dukungan pemerintah juga perlu disertai kepedulian masyarakat. Puji menilai kebiasaan menjaga lingkungan dan merawat budaya ikut menentukan kenyamanan serta pengalaman orang yang berkunjung.
Ia menyoroti sampah yang masih berserakan dan identitas kota yang dinilainya belum terbentuk kuat.
“Kalau kita tidak cinta budaya, tidak cinta lingkungan, bagaimana orang mau datang ke Samarinda? Sampah masih berserakan, karakter kotanya juga belum terbentuk,” katanya.
Menurut Puji, kecenderungan warga memilih berlibur ke luar daerah dapat menjadi bahan refleksi tentang pengelolaan potensi lokal. Ia menilai warisan budaya Samarinda belum dimanfaatkan secara optimal untuk menumbuhkan kebanggaan warga maupun menarik pengunjung.
“Kita lebih senang ke Bali atau daerah lain, padahal kita juga punya warisan budaya. Tapi sayangnya tidak dimanfaatkan,” ujarnya.
Puji membandingkan kondisi tersebut dengan Kutai Kartanegara yang, menurut penilaiannya, lebih konsisten menjaga tradisi. Ia berharap kesadaran serupa tumbuh di Samarinda melalui keterlibatan masyarakat dalam merawat kekayaan budaya.
“Budaya di Kukar masih terjaga, sedangkan di Samarinda kecintaan masyarakat terhadap budaya sendiri belum tumbuh,” tegasnya.
Ia ingin dukungan anggaran, pembenahan pengelolaan, dan keterlibatan warga berjalan bersama. Dengan budaya yang tetap hidup serta lingkungan yang terjaga, Samarinda diharapkan semakin dikenal melalui identitas lokalnya, di samping aktivitas industri.
“Kita ingin budaya lokal benar-benar hidup dan menjadi wajah Samarinda di mata wisatawan,” pungkasnya.
PENULIS: MJH