Home BONTANG Mengurai Kemarau, Menyemai Hijau: Jejak Semai Bumi Badak LNG untuk Keberlanjutan Petani di Kampung Hortikultura
BONTANGCORPORATEKALTIMRAGAM

Mengurai Kemarau, Menyemai Hijau: Jejak Semai Bumi Badak LNG untuk Keberlanjutan Petani di Kampung Hortikultura

43

Manajemen Badak LNG saat mengunjungi Kampung Hortikultura untuk melaksanakan panen bersama para petani. (FOTO: Desta/ Corcom Badak LNG)

BONTANG. Tanah yang merekah, tanaman yang mengering, dan air yang sulit didapat pernah menjadi pemandangan sehari-hari bagi Ketua Kelompok Tani Karya Bersama, Hadi Supianto. Di Kampung Hortikultura yang berada di Kelurahan Gunung Elai, Bontang, kemarau bukan sekadar perubahan musim, melainkan ancaman nyata bagi penghidupan petani yang menggantungkan harapan pada hasil bumi.

Sekitar 2015, ketika kemarau berkepanjangan melanda Bontang, tanaman cabai dan sayuran yang ditanam Hadi bersama petani lainnya tak mampu tumbuh optimal. Tanah mengering, sementara air untuk menyiram tanaman semakin sulit diperoleh, membuat modal yang telah dikeluarkan terancam hilang tanpa menghasilkan panen.

“Kalau sudah kemarau panjang begitu, tanah retak, air tak ada. Kami terpaksa banting setir. Ada yang terpaksa jadi buruh bangunan, ada yang pergi melaut jadi nelayan. Mau nanam apa kalau tidak ada air?” kenang Hadi.

Pengalaman tersebut memperlihatkan betapa rentannya pertanian terhadap perubahan kondisi lingkungan, terutama ketika ketersediaan air tidak dapat diandalkan. Bagi petani yang mengandalkan hasil kebun sebagai sumber pendapatan, kekeringan dapat berujung pada gagal panen sekaligus mengganggu ekonomi keluarga.

Kelompok Tani Karya Bersama telah berdiri sejak 2008 dan menggarap lahan di Kampung Hortikultura yang merupakan lahan milik yayasan Badak LNG. Saat ini mereka mengelola lahan seluas 11 hektare dengan menghadapi berbagai persoalan, mulai dari keterbatasan air, serangan hama, hingga tingginya biaya pemupukan.

Sebelum mendapatkan pendampingan, tingkat kegagalan panen saat kemarau disebut bisa mencapai 50 persen, bahkan tidak jarang berujung gagal total. Tanaman yang mulai berbuah dapat rusak akibat serangan hama, sementara biaya produksi tetap harus ditanggung oleh petani.

Di tengah kondisi tersebut, upaya memperbaiki pertanian tidak cukup hanya dengan menambah luas tanam atau meningkatkan intensitas pengolahan lahan. Petani membutuhkan cara agar air tetap tersedia, biaya produksi lebih terkendali, dan tanah dapat terus dimanfaatkan tanpa bergantung sepenuhnya pada bahan kimia sintetis.

Persoalan inilah yang kemudian menjadi perhatian tim Community Development (Comdev) CSR Badak LNG melalui program Semangat Mengabdi untuk Masyarakat dan Bumi (Semai Bumi). Program yang mulai dijalankan secara bertahap pada 2023–2024 ini diarahkan untuk menjawab persoalan pertanian berdasarkan kebutuhan nyata para petani yang ada di Kampung Hortikultura.

Community Development Facilitator CSR Badak LNG, Indra Maulana, mengatakan program tersebut diawali dengan kajian sosial di Kelurahan Gunung Elai serta dialog bersama pihak yayasan. Pendekatan ini dilakukan untuk mengidentifikasi masalah utama yang menghambat produktivitas pertanian di kawasan Kampung Hortikultura.

“Semua program kami di Badak LNG itu dimulai dari suatu kajian ilmiah berbasis dokumen yang namanya social mapping. Kita melakukan kajian di Kelurahan Gunung Elai, lalu berdiskusi dengan yayasan,” ujar Indra.

Salah satu sudut lahan pertanian di Kampung Hortikultura tumbuh subur berkat program Semai Bumi CSR Badak LNG. (FOTO: Desta/Corcom Badak LNG)

Dari hasil kajian tersebut, tim CSR mengidentifikasi 24 petani dari dua kelompok tani yang menggarap lahan seluas 8,8 hektare. Sejumlah persoalan kemudian dipetakan, termasuk kesulitan memperoleh air, serangan hama, mahalnya pupuk, dan produktivitas tanaman yang belum optimal.

Air dari Matahari

Bagi petani di Kampung Hortikultura, ketersediaan air menjadi salah satu persoalan paling mendasar karena sebagian lahan berada di area yang tidak terjangkau aliran sungai. Sebelum tersedia fasilitas pendukung, petani harus mengangkut air menggunakan jeriken dari bagian lahan yang lebih rendah untuk menyiram tanaman.

Pekerjaan tersebut menyita tenaga dan waktu, terutama ketika tanaman membutuhkan penyiraman secara rutin. Kehadiran sumur bor dengan pompa berbahan bakar genset sempat membantu mengatasi persoalan itu, tetapi kebutuhan membeli bensin masih menjadi beban tambahan bagi petani.

Badak LNG kemudian melengkapi fasilitas sumur bor tersebut dengan instalasi panel surya untuk mendukung pengoperasian pompa air. Pemanfaatan energi matahari ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar sekaligus menekan biaya operasional penyiraman tanaman.

“Dulu sebelum ada bantuan, kalau mau siram tanaman di atas kita harus gotong air pakai jeriken dari sungai bawah. Begitu ada sumur bor genset, masih keluar biaya bensin. Sekarang? Ada panel surya, tinggal colok, air langsung ngalir gratis. Biaya operasional kami jadi jauh berkurang,” cerita Hadi.

Perubahan tersebut memberi kemudahan bagi petani dalam mengelola kebutuhan air di lahan yang sebelumnya sulit dijangkau. Tak hanya memperlancar penyiraman, pemanfaatan energi surya juga membuat penggunaan sumber daya pertanian jadi jauh lebih efisien, dimana sebelumnya para petani harus membeli bensin untuk menyalakan .

Sebagai upaya mengatasi serangan hama yang mengancam tanaman, tim CSR melalui program Semai Bumi memberikan bantuan berupa perangkap serangga (light trap) yang diberi nama Pelita Benua sebagai metode pengendalian hama. Perangkat tersebut memanfaatkan cahaya ultraviolet untuk menarik serangga pada malam hari dan menggunakan energi yang disimpan dalam baterai dari panel surya. Serangga yang mendekati lampu akan terperangkap dalam wadah berisi air di bagian bawah alat tersebut.

Menurut Hadi, penggunaan perangkap ini membantu petani menghadapi serangan hama seperti trips, tungau, dan ngengat. Ia juga menyebut metode tersebut menjadi salah satu upaya mengurangi penggunaan pestisida kimia dalam kegiatan budidaya.

“Penggunaan light trap ini memutus sirkulasi perkembangbiakan hama. Induk-induk hama yang biasanya bertelur di malam hari terperangkap sebelum sempat berkembang biak. Penggunaan pestisida kimia pun bisa kita kurangi drastis,” ujarnya.

Pengendalian hama menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian karena kerusakan tanaman dapat mengurangi hasil panen sekaligus menambah biaya produksi. Penggunaan perangkap serangga menawarkan pendekatan tambahan yang dapat diterapkan bersama metode budidaya lainnya, dengan efektivitas yang perlu terus dipantau berdasarkan kondisi lahan.

Ketua Kelompok Tani Karya Bersama, Hadi Sugianto, menunjukkan tanaman cabai keriting yang tetap tumbuh subur di tengah musim kemarau berkat program Semai Bumi. (FOTO: RDY/narasipedia.net)

Mengolah Limbah, Menekan Biaya Produksi

Selain air dan hama, biaya pemupukan turut menjadi tantangan bagi petani Kampung Hortikultura. Ketika harga pupuk kimia nonsubsidi meningkat, petani harus mencari alternatif agar kebutuhan nutrisi tanaman tetap terpenuhi tanpa semakin membebani modal usaha.

Melalui Semai Bumi, Badak LNG menghadirkan tenaga ahli teknik pertanian lokal untuk memberikan pelatihan selama satu bulan. Para petani mempelajari pembuatan pupuk organik cair untuk fase vegetatif dan generatif, pembenah tanah, kompos dari limbah non-B3, serta bahan pemacu pertumbuhan berbasis asam amino yang memanfaatkan limbah ikan teri.

Untuk mendukung penerapan pengetahuan tersebut, Badak LNG juga membangun rumah kompos di area kebun. Fasilitas ini menjadi tempat bagi petani untuk mengolah bahan yang tersedia menjadi kompos dan mendukung praktik pemupukan yang lebih efisien.

Pendekatan tersebut mempertemukan dua kebutuhan sekaligus, yakni mengendalikan biaya produksi dan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar petani. Limbah yang sebelumnya belum tentu memiliki nilai guna dapat diolah menjadi bahan pendukung pertanian, sepanjang proses pengolahan dan penggunaannya sesuai dengan kebutuhan tanaman.

“Asam amino buatan sendiri ini luar biasa sekali fungsinya pas musim panas begini, karena sanggup menjaga kelembapan tanah. Begitu ada pelatihan, semua anggota antusias hadir. Sekarang penggunaan pupuk kimia mahal bisa kita hemat jauh,” kata Hadi.

Bagi petani, pelatihan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membuat pupuk sendiri, tetapi juga pengetahuan untuk mengelola kebutuhan pertanian secara lebih mandiri. Penerapan pupuk organik tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi tanah agar manfaatnya dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Praktik pertanian yang lebih efisien menjadi penting ketika petani harus menghadapi ketidakpastian cuaca sekaligus menjaga biaya usaha. Ketersediaan air, pengendalian hama, dan pengelolaan pupuk merupakan bagian yang saling berkaitan dalam membangun sistem pertanian yang lebih tangguh.

Panen di Tengah Kemarau

Perubahan di Kampung Hortikultura terlihat ketika kemarau kembali menjadi tantangan pada 2026. Di tengah minimnya hujan sejak awal tahun, lahan pertanian tersebut tetap dimanfaatkan untuk menanam berbagai komoditas hortikultura, mulai dari terung ungu, terung lalap, cabai keriting, gambas, pepaya, hingga semangka.

Bagi Hadi, kemampuan mempertahankan kegiatan bercocok tanam menjadi salah satu perubahan paling berarti dibandingkan masa ketika petani harus meninggalkan kebun akibat kekurangan air. Ketersediaan air dari sumur bor bertenaga surya, pengendalian hama, serta penggunaan pupuk yang dibuat sendiri membantu mereka mengelola usaha tani di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.

Hadi membandingkan hasil panen cabai keriting sebelum dan setelah pendampingan. Menurut dia, hasil panen yang sebelumnya berkisar 2–2,5 ton per hektare kini dapat mencapai sekitar 4 ton per hektare.

Berbagai hasil pertanian Kelompok Tani Karya Bersama di Kampung Hortikultura dari program Semai Bumi. (FOTO: Desta/Corcom Badak LNG)

Angka tersebut menjadi gambaran peningkatan produktivitas yang dirasakan petani setelah berbagai perbaikan dilakukan. Untuk memastikan besarnya peningkatan secara lebih terukur, perbandingan hasil panen perlu mempertimbangkan periode pengukuran, varietas tanaman, luas panen, dan kondisi budidaya pada masing-masing musim.

Selain hasil panen, penghematan biaya operasional turut memengaruhi pengelolaan pendapatan keluarga. Dana yang sebelumnya digunakan untuk membeli bahan bakar pompa dan sebagian kebutuhan pupuk dapat ditekan, sehingga petani memiliki ruang lebih besar untuk mengatur pengeluaran rumah tangga.

Hasil panen dari Kampung Hortikultura selama ini diserap oleh jaringan pengepul untuk memenuhi kebutuhan pasar tradisional di Kota Bontang. Badak LNG juga membuka jalur distribusi tambahan dengan menyerap sebagian produk hortikultura melalui Toko Jajanan Serba Ada (Tojasera) milik perusahaan.

Akses pasar menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan usaha tani karena produksi yang meningkat harus diimbangi dengan penyerapan hasil yang memadai. Tanpa jalur pemasaran yang baik, peningkatan produktivitas belum tentu memberikan manfaat ekonomi yang optimal bagi petani.

Kombinasi perbaikan teknik budidaya dan akses pemasaran membantu membuka peluang bagi petani untuk mengelola usaha secara lebih terencana. Namun, keberlanjutan hasilnya tetap bergantung pada kemampuan mempertahankan produktivitas, mengendalikan biaya, dan memenuhi kebutuhan pasar.

Menjaga Keberlanjutan Setelah Pendampingan

Program Semai Bumi mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3). Kepala Bidang Pertanian DKP3 Kota Bontang, Fadli, menilai program tersebut sebagai salah satu bentuk kolaborasi yang mendukung ketahanan pangan, pengembangan pertanian perkotaan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Program Semai Bumi mengusung pendekatan holistik. Dari pilar pertanian berkelanjutan, pendampingan organik ini terbukti berhasil mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis sekaligus mengoptimalisasi lahan marjinal menjadi area produktif penanaman sayuran dan cabai,” ujar Fadli.

Menurut Fadli, sinergi antara dunia usaha dan pemerintah dapat membantu memperkuat kapasitas kelompok tani. DKP3 juga membuka peluang dukungan melalui penguatan kelembagaan, fasilitasi sertifikasi produk, hingga pengembangan akses rantai pasok yang lebih luas di Kota Bontang.

Dukungan tersebut penting untuk memastikan petani tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga mengelola usaha secara berkelanjutan. Penguatan kelembagaan dan akses pasar dapat menjadi bekal agar kelompok tani memiliki daya tawar serta peluang pengembangan usaha yang lebih baik.

“DKP3 sangat mengapresiasi CSR Badak LNG atas pendampingan yang dilakukan kepada para petani di Kota Bontang, khususnya Kampung Hortikultura yang berada di Kelurahan Gunung Elai,” pungkasnya.

Kepala Bidang Pertanian DKP3 Kota Bontang, Fadli, menyampaikan dukungan untuk Program Semai Bumi yang dinisiasi oleh CSR Badak LNG. (FOTO: Dok. pribadi)

Di sisi lain, Badak LNG menjalankan agenda Management Goes to Mitra Binaan sebagai sarana bagi jajaran manajemen untuk bertemu langsung dengan petani. Melalui kegiatan tersebut, manajemen dapat mendengar persoalan di lapangan sekaligus melihat perkembangan program yang telah dijalankan.

Bagi Farhan Hilmy, Comdev Support CSR Badak LNG, pertemuan langsung tersebut menjadi kesempatan untuk melihat perkembangan program dari dekat. Ia menilai keterlibatan manajemen dapat membantu memastikan bahwa pendampingan memberikan manfaat nyata bagi kelompok tani.

“Manajemen bisa melihat sendiri bahwa bantuan yang diberikan itu terasa nyata dan ada kemajuannya, bukan sekadar gimmick. Kedekatan ini yang memberi keyakinan bahwa program ini akan bertahan lama,” tuturnya.

Badak LNG merencanakan pendampingan Semai Bumi berlangsung selama empat hingga lima tahun, hingga kelompok tani binaan dinilai siap menjalankan usaha secara mandiri. Tahap tersebut menjadi penting karena keberhasilan program tidak hanya diukur dari tersedianya fasilitas, tetapi juga dari kemampuan petani mempertahankan manfaatnya setelah pendampingan berakhir.

Keberlanjutan membutuhkan lebih dari sekadar bantuan sarana. Petani perlu mampu merawat fasilitas, menerapkan pengetahuan yang diperoleh, mengelola biaya produksi, serta mempertahankan akses pasar agar kegiatan pertanian dapat terus berjalan tanpa ketergantungan berkepanjangan pada pendamping.

Bagi Hadi, harapan tersebut berkaitan langsung dengan masa depan keluarga petani di Kampung Hortikultura. Mereka ingin tetap menjadikan pertanian sebagai sumber penghidupan tanpa terus-menerus menghadapi ancaman kehilangan panen setiap kali kemarau datang.

“Harapan kami sederhana saja. Kami ini petani asli, penghasilan tiap hari ya dari mencangkul tanah ini. Semoga kemitraan dengan Badak LNG dan Pemkot Bontang ini terus berjalan berkelanjutan, agar pertanian di Kampung Hortikultura bisa terus bernapas dan menyejahterakan kami,” pungkas Hadi.

Dari tanah yang pernah retak karena kekeringan,Kampung Hortikultura menyimpan pelajaran tentang arti keberlanjutan bagi petani di tengah kota industri. Menjaga pertanian bukan semata-mata soal menghasilkan panen hari ini, melainkan memastikan air tetap tersedia, tanah terus produktif, biaya usaha dapat dikendalikan, dan petani memiliki kemampuan untuk melanjutkan pekerjaannya pada masa mendatang.

PENULIS: RDY

Related Articles

ADVETORIALBONTANGCORPORATE

Pupuk Kaltim Cup 2026 Jadi Berkah UMKM, Transaksi Tembus Rp772,9 Juta

BONTANG. Kehadiran UMKM Corner dalam gelaran Pupuk Kaltim Cup 2026 menjadi salah...

ADVETORIALKALTIMSAMARINDA

Tak Bisa Terus Bergantung pada APBD, Hotel Samarinda Diminta Membidik Pasar IKN

Helmi Abdullah Ketua DPRD Samarinda (Foto: MJH/narasipedia.net) SAMARINDA. Industri perhotelan di Kota...

ADVETORIALKALTIMSAMARINDA

Helmi Soroti Efek Berantai Efisiensi terhadap Hotel, Restoran, dan Tenaga Kerja

Helmi Abdullah Ketua DPRD Samarinda (Foto: MJH/narasipedia.net) SAMARINDA. Pengurangan belanja pemerintah mulai...

ADVETORIALKALTIMSAMARINDA

Sani Soroti Panjangnya Rantai Distribusi yang Membuat Harga Pangan Mahal

Sani Bin Husain Anggota Komisi II DPRD Samarinda (Foto: MJH/narasipedia.net) SAMARINDA. Panjangnya...