BONTANG. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghasilkan asap pekat menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Kebakaran tersebut menghasilkan partikulat halus seperti Particulate Matter (PM) 2.5 yaitu partikel udara sangat kecil yang menjadi tolok ukur utama polusi udara berukuran di bawah 2.5 mikrometer dan PM10 yang mampu menembus jauh ke dalam saluran pernapasan hingga memicu berbagai gangguan kesehatan kronis.
Menanggapi ancaman ini, salah satu Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit (RS) swasta Bontang, dr. Ferryansyah, Sp.P yang akrab disapa dr. Ferry memberikan edukasi mendalam mengenai dampak berbahaya kabut asap serta langkah-langkah pencegahan yang harus dilakukan oleh masyarakat. Ia menjelaskan bahwa paparan asap karhutla dalam jangka pendek dapat memicu iritasi mata, hidung, tenggorokan, batuk, pilek, hingga sesak napas. Bagi individu dengan riwayat penyakit pernapasan, kondisi ini dapat memperburuk penyakit seperti asma, bronkitis, dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
“Partikel halus seperti PM2.5 sangat berbahaya karena bisa masuk ke pembuluh darah dan organ tubuh. Risiko jangka panjangnya mencakup peningkatan infeksi saluran napas, penyakit jantung, stroke, hingga kanker paru,” ujarnya.
Dijelaskannya, kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis diminta untuk ekstra waspada. Dan untuk meminimalkan dampak buruk kesehatan, dr. Ferry membagikan sejumlah panduan praktis yang dapat diterapkan masyarakat sehari-hari, mulai dari mengurangi aktivitas di luar ruangan dengan berdiam di dalam rumah serta memastikan jendela dan pintu tertutup rapat, hingga memilih masker yang tepat seperti jenis N95 atau KN95 saat harus beraktivitas di luar karena masker kain maupun masker bedah biasa tidak memberikan perlindungan optimal terhadap partikel halus PM2.5.
Selain itu, masyarakat disarankan menjaga kualitas udara dalam ruangan menggunakan air purifier atau memperbanyak tanaman hias indoor, serta menjaga daya tahan tubuh dengan memperbanyak konsumsi air putih dan makanan bergizi seimbang, sembari mengimbau para penderita asma atau PPOK agar selalu mematuhi jadwal pengobatan, membawa inhaler, dan menghindari faktor pencetus.
dr. Ferry juga mengingatkan masyarakat untuk segera mengunjungi fasilitas kesehatan jika mengalami gejala darurat, seperti sesak napas berat, mengi berat, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau pemburukan gejala penyakit paru dan jantung yang sudah ada sebelumnya.
“Udara bersih adalah hak kita bersama, dan paru-paru yang sehat adalah masa depan kita. Oleh karena itu, mari kita saling menjaga dan menerapkan langkah-langkah pencegahan demi kesehatan bersama,” pungkasnya.