Situasi utang antara teman yang kerap menimbulkan kecanggungan dan tekanan emosional (FOTO: Ilustrasi AI)
BONTANG. Banyak orang menganggap utang ke teman atau keluarga sebagai solusi paling aman saat keuangan sedang seret. Tanpa bunga, tanpa denda, dan tanpa tekanan seperti pinjaman online. Namun kenyataannya, utang personal justru sering menjadi masalah yang lebih rumit. Bukan hanya soal uang, tetapi juga soal kepercayaan dan hubungan emosional yang bisa rusak perlahan.
Utang ke teman berisiko merusak hubungan karena bercampurnya urusan finansial dengan perasaan. Saat pengembalian tidak sesuai janji, muncul rasa sungkan, kecewa, hingga konflik yang berlarut-larut. Hubungan pertemanan atau kekeluargaan yang awalnya hangat bisa berubah canggung, bahkan berakhir putus komunikasi. Hal ini jarang disadari di awal karena utang personal sering dibungkus dengan rasa saling percaya.
Masalah lain muncul karena ketiadaan perjanjian tertulis. Tidak adanya kesepakatan yang jelas membuat utang terasa “santai” dan mudah diabaikan. Peminjam kerap merasa tidak dikejar waktu, sementara pemberi pinjaman justru memendam tekanan karena uang yang dipinjamkan bisa jadi adalah dana penting untuk kebutuhan hidupnya sendiri. Berbeda dengan pinjol yang memiliki sistem dan jadwal penagihan baku, utang ke teman sering menggantung tanpa kepastian.
Dari sisi psikologis, tekanan utang ke teman juga lebih berat. Menagih utang kepada orang dekat sering dianggap tidak etis atau merusak perasaan, sehingga banyak orang memilih diam meski sebenarnya tertekan. Situasi ini menciptakan beban emosional ganda, baik bagi peminjam maupun pemberi pinjaman. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu stres dan ketegangan sosial.
Kebiasaan berutang ke teman juga sering menutupi akar persoalan keuangan yang sesungguhnya. Alih-alih memperbaiki pengelolaan uang, sebagian orang justru menjadikan utang sebagai solusi cepat. Padahal, masalah utama sering berasal dari gaya hidup konsumtif, utang untuk kebutuhan non-esensial, serta ketiadaan dana darurat yang memadai.
Gaya hidup FOMO atau takut tertinggal tren menjadi salah satu penghambat utama kekayaan. Keinginan untuk selalu mengikuti gaya hidup sosial, nongkrong, atau liburan di luar kemampuan finansial membuat pengeluaran membengkak. Ditambah lagi dengan utang konsumtif seperti kredit gadget, pakaian, atau kendaraan yang nilainya terus menurun dan tidak menghasilkan pemasukan.
Kondisi semakin rentan ketika seseorang tidak memiliki dana darurat. Saat terjadi kejadian tak terduga seperti sakit atau kehilangan pekerjaan, utang menjadi pilihan terakhir yang tak terelakkan. Kebiasaan hanya membayar tagihan minimum kartu kredit atau paylater pun memperparah keadaan karena bunga berbunga membuat utang semakin menumpuk. Tak sedikit pula yang tergoda janji cuan instan melalui spekulasi tanpa pemahaman, yang justru berujung pada kerugian besar.
Mengelola keuangan secara bijak menjadi kunci untuk keluar dari lingkaran ini. Membatasi utang, baik ke teman maupun lembaga keuangan, adalah langkah awal yang penting. Jika terpaksa meminjam atau meminjamkan uang kepada orang dekat, kesepakatan tertulis tetap diperlukan agar kedua belah pihak memiliki kejelasan dan rasa aman. Lebih dari itu, refleksi diri dan perbaikan arus kas, pengendalian gaya hidup, serta disiplin menabung jauh lebih efektif untuk membangun ketahanan finansial jangka panjang.
Pada akhirnya, utang bukan hanya persoalan angka, tetapi juga menyangkut kepercayaan dan hubungan sosial. Menjaga kesehatan finansial berarti juga menjaga relasi agar tetap utuh dan saling menghargai.